Suara Pembaharu ideas 2017

Bitung, Suarapembaharu.com - "Bersemangat" itulah kata yang terlintas dibenak seorang Maurits Mantiri. Wakil Wali Kota Bitung yang dikenal merakyat ini memang punya agenda pada, Jumat (23-6-2017) disalah satu kelurahan di Pulau Lembeh.

Yaa, kelurahan tersebut adalah Kelurahan Posokan, Kecamatan Lembeh Utara, Kota Bitung, Provinsi Sulawesi Utara. Dimana kelurahan ini dihuni 111 kepala keluarga yang hampir seluruhnya berprofesi sebagai nelayan.

Menurut Mantiri, keberadaan Kelurahan Posokan sebagai kelurahan wisata, tinggal menunggu sedikit sentuhan dari pemerintah.

" Ketika mendengar agenda saya hari ini jumat 23 Juni 2017 berada dipulau lembeh yang mana kehadiran saya dalam rangka menghadiri HUT ke 35 Jemaat  GMIM Eben Heazer Posokan. Kelurahan Posokan,Kecamatan Lembeh Utara adalah tempat yang nyaman untuk tempat tinggal dengan jumlah sekitar 111 KK, jumlah perahu nelayannya hampir setengah dari jumlah kepala keluarga, tidak pernah tak ada hasil tangkapan ikan dan tinggal kita poles sedikit bisa jadi Kelurahan Wisata, " tulis pria ramah ini diakun media sosialnya.

Reporter : Yaser Baginda
Editor : Arham Licin

Ket Foto : Maurits Mantiri saat berada di Kelurahan Posokan dan membaur dengan beberapa nelayan

Nasional, Suarapembaharu.com -CATATAN SEJARAH CANTRANG EROPA HINGGA MASUK LAUT JAWA YANG MENGHEBOHKAN

1. Cantrang pertama kali dikreasikan oleh nelayan Inggris di Laut Mediterania  pada kurun tahun 1930-an sebagai upaya pengganti Trawl yang terlalu desruktif super efektif tidak selektif menekan pertumbuhan sumberdaya hayati dan lingkungan habitat dasar perairan. Cantrang pukat yang ditarik dengan deck machinery (bukan ditarik dengan mesin penggerak kapal) kapal yang digunakan relatif kecil dapat mengurangi tekanan sumberdaya dibanding Trawl yang ditarik dengan daya mesin gerak kapal.

2. Gejolak sosial nelayan era 1960-1980 yang disebabkan alat tangkap Trawl yang tak terkendali versus nelayan non-trawl memunculkan kebijakan Keppres 39/1980 tentang Larangan Trawl SECARA BERTAHAP di Jawa, Sumatera dan Kalimantan. Muncullah uji coba alat tangkap pengganti trawl berupa cantrang Eropa yg dilaksanakan oleh negara melalui Balai Penangkapan Ikan Semarang. Cantrang tersebut pada mulanya oleh Keputusan Dirjen Perikanan-Deptan hanya boleh digunakan untuk nelayan kecil dengan kapal max 5GT dan daya mesin penggerak kapal max 15 PK dengan ukuran bukaan mulut jaring max 2(dua) meter, tujuannya untuk menghidupkan ekonomi nelayan kecil.

3. Berkembangnya kapal besar diatas 30GT ijin Pusat dengan alat tangkap (alkap) Pancing Rawai Dasar (Bottom Longline) namun alkap di lapangan berbelok berganti gunakan cantrang ukuran besar.
Sebagian lagi kapal markdown dengan dokumen dibawah 30GT minta ijin daerah dengan alkap cantrang. Terjadi pembiaran pelanggaran Kepdirjen-Deptan tentang Cantrang yang hanya boleh untuk kapal nelayan max 5GT dengan mesin 15PK. Suasana keterlanjuran kemajon ini menjadi tekanan masyarakat nelayan kuat kepada pemerintah daerah dan pemerintah pusat meminta agar dilegalkan cantrang hingga ukuran kapal 30GT, maka terbitlah Permen KKP 02/2011.

4. Sebagian kembali ke jalan yang benar. Sebagian lagi modus terulang oknum nelayan cantrang kuat perbesar kapal hingga diatas 30GT yang seharusnya membayar PNBP sebagai penerimaan negara/rakyat, apakah oknum tersebut bayar PHP dan P3.? Kalau andai tak bayar penerimaan negara apa artinya..?

5. Jika mau minta legalkan cantrang ukuran besar diatas 30GT dasarnya apa? Sama saja jika tidak punya kajian ilmiah pengendalian fishing capasity, naskah akademik cantrang, standar teknis metode penangkapan, ukuran alat tangkap ikan, pembagian area dan waktu penangkapan agar tidak timbulkan gejolak antar jenis alat tangkap nelayan. Zona penangkapan ikan yang multy gears makin padat bersilangan antara yang statis dan bergerak, berbagai jenis alkap juga punya kepentingan mengembangkan kapasitas usaha penangkapannya makin canggih, pengendalian dan pengawasannya seperti apa agar tidak timbul gejolak antar nelayan?.

By @kakebaruna

Bitung, Suarapembaharu.com - Pelaksanaan Sholat Idul Fitri (Ied) 1438 Hijriyah tahun 2017 di Kota Bitung yang rencananya akan dilaksanakan pada 25 Juni 2017 akan berlangsung disejumlah lokasi.

Menurut Ketua Panitia Hari Besar Islam (PHBI)  H Ramlan Ifran bahwa pelaksanaan Sholat Ied ada di laksanakan di 92 Masjid dan 21 Musholah.

Selain digelar di Masjid dan Musholah, pelaksanaan Sholat Ied juga akan berlangsung di beberapa ruang terbuka. Seperti, di halaman Pemkot Bitung, Stasiun Pusat Kota, Lapangan Stadion Duasudara, Lapangan Dodik Secata B, Lapangan Kodim 1310 Bitung, Kantor DPRD Bitung, dan Lapangan Batalyon Marinir Bitung.

" ada 92 Masjid dan 21 Musholah serta pusat Kota Bitung, halaman Pemkot, Lapangan Duasudara, Lapangan Dodik Secata B, Lapangan Kodim, Lapangan Kantor DPRD, dan Lapangan Danyon Marinir, " jelas pria yang juga adalah anggota DPRD Bitung ini, Jumat (23-6-2017).

Reporter : Yaser Baginda
Editor : Arham Licin

Ket Foto : Ramlan Ifran Ketua PHBI Kota Bitung

Suara Pembaharu

{picture#https://lh3.googleusercontent.com/-KxCpQnd7tqI/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAAJk/t239p-tSaZY/s120-c/photo.jpg} Media Online, Suara Pembaharu. Menyajikan Informasi Aktual & Terpercaya. {facebook#http://facebook.com} {twitter#http://twitter.com} {google#http://google.com} {youtube#http://youtube.com} {instagram#http://instagram.com}
Powered by Blogger.