Suara Pembaharu ideas 2017

Penulis : Amato Assagaf

Inisiatif wakil gubernur Sulut Steven Kandouw (selanjutnya SK) untuk mengganti slogan “Torang Samua Basudara” dengan slogan baru “Torang Samua Ciptaan Tuhan” adalah blunder. Dan sebagai blunder, inisiatif ini telah menciptakan hattrick. Artinya, ada tiga blunder yang dipersembahkan oleh inisiatif tersebut.

Amato Assagaf
Blunder pertama tercipta karena SK, dan siapapun yang bersamanya dalam mengambil inisiatif itu, tidak memperhitungkan kontekstualitas dari sebuah slogan. Maksudnya, tidak menciptakan slogan itu dari konteks masyarakat yang diwakili sekaligus hendak dijadikan tujuan.

Kita tahu bahwa slogan “Torang Samua Basudara” diciptakan karena masyarakat Sulut waktu itu sedang berada dalam sebuah Indonesia yang tengah terancam disintegrasi. Slogan itu memiliki konteks dan karenanya bersifat kontekstual.

Reformasi telah menjebol dinding penahan kreativitas dan produktivitas masyarakat yang selama 32 tahun dikurung oleh kebengisan rezim Orba. Ini artinya kebebasan, yang oleh sebagian orang kurang kerjaan dianggap kebablasan padahal cuma seketika dan memang mengejutkan, menjadi begitu terbuka bagi setiap kemungkinan.

Dalam situasi kebebasan yang seketika, mengejutkan, dan terbuka bagi setiap kemungkinan itu, sebagian anggota masyarakat mencari pegangan dalam rasa cemas dan tak kurang juga ketakutan. Akibatnya adalah ancaman disintegrasi yang mengharu biru. Sulawesi Utara, kita tahu, tidak terkecuali.

Primordialitas agama lengkap dengan dorongan nafsu primitif yang menghidupkan sikap ekstrim merupakan salah satu contoh ancaman disintegrasi itu. Gubernur Sulut waktu itu, E.E. Mangindaan, berdasarkan masukan dari para pemuka agama dan tokoh masyarakat, mengambil inisiatif untuk menelorkan ungkapan “Torang Samua Basudara” sebagai slogan masyarakat Sulut.

Maknanya sederhana dan, puji Tuhan, berlaku efektif. Primordialitas dan perbedaan yang menyertainya tidak harus melupakan kita dari esensi kebersamaan kita sebagai sesama saudara dalam keluarga besar umat manusia; setidaknya sebagai bagian dari keluarga besar Sulawesi Utara. Antara slogan dan konteksnya terdapat hubungan logis yang berlaku lurus sehingga memenuhi syarat kepentingan kita sebagai sebuah masyarakat dan, karenanya, memiliki fungsi praktis.

Tanpa konteks, sebuah slogan hanyalah abstraksi spekulatif yang sulit untuk berfungsi. Hal ini bisa kita temukan dalam slogan “Torang Samua Ciptaan Tuhan” yang diinisiasi oleh SK. Bahwa ungkapan itu baik adanya tidak perlu kita ragukan. Persoalannya adalah ungkapan itu, sebagai sebuah slogan, tidak berdangka alias tidak berangkat dari manapun dan tidak menuju ke manapun.

Untuk mengujinya marilah kita lihat makna yang mungkin dari slogan tersebut dan konteks masyarakat seperti apa yang membuatnya diperlukan lalu kita bandingkan dengan konteks Sulawesi Utara hari ini. 

Slogan itu adalah sebuah ungkapan untuk mengingatkan bahwa “Torang Samua” adalah “Ciptaan Tuhan.” Nada relijius yang sangat kental bisa langsung terdengar dari ungkapan tersebut. Dalam arti ini, slogan tersebut bisa dilihat sebagai himbauan untuk mengingatkan masyarakat pada keberadaannya sebagai ciptaan Tuhan.

Jika demikian – dan memang demikian – maknanya maka apa yang selanjutnya terbayang di dalam kepala kita adalah sebuah konteks yang mendorong pentingnya slogan ini untuk dilahirkan; sebuah masyarakat yang sedang berada dalam situasi lupa akan Tuhan. 

Masalahnya, benarkah itu konteks Sulut saat ini? Benarkah bahwa masyarakat Sulut sedang berada dalam situasi krisis keyakinan bahwa “Torang Samua” adalah “Ciptaan Tuhan?” Tentu saja tidak. Lebih dari melupakan Tuhan, Sulut hari ini justru begitu dipenuhi dengan obsesi dan ambisi akan Tuhan.

Dari status facebook hingga mimbar akademik, kita mendengar nama Tuhan disebut. Dari dalam mall hingga ke kantor-kantor pemerintah, Tuhan tidak pernah terlupa. Dengan gereja dan mesjid yang bertaburan bagai bintang di langit sulit bagi kita untuk melihat ada yang kurang relijius dalam suasana batin “Torang Samua” sebagai sebuah masyarakat.

Berpikir sebaliknya hanyalah sirkus intelektual yang, dalam kadar tertentu, terasa sangat berlebihan dan tentu saja bisa menjemukan. Sebagai ilustrasi, tiga puluh tahun sejak saya pertama kali mempelajari teori evolusi yang dalam titik ekstrimnya merupakan gugatan terhadap ajaran bahwa “Torang Samua” adalah “Ciptaan Tuhan,” saya belum pernah bertemu ada orang Sulut yang benar-benar percaya pada teori itu.

Artinya apa? Konsepsi bahwa “Torang Samua” adalah “Ciptaan Tuhan” tidak sedang mengalami krisis jika bukannya sedang menjadi konsumsi dagang dan politik yang paling laku. Akibatnya apa? Mengajukan ingatan akan hal itu menjadi tak kurang sama dengan mengingatkan orang bahwa malam itu gelap dan siang sangat terang.

Blunder yang kedua adalah slogan “Torang Samua Ciptaan Tuhan” tidak berangkat dari imajinasi puitik yang kreatif. Ini menyedihkan tentu saja mengingat masyarakat Sulawesi Utara pada saat ini sedang berada pada puncak hasrat akan kreativitas puitis. Belum lagi kenyataan bahwa kita sekarang punya cukup banyak penyair yang baik untuk dimintai saran sebelum melemparkan gagasan yang berhubungan dengan kekuatan kata-kata.

Dua kata pertama “Torang Samua” jelas merupakan plagiat. Itu istilah yang telah digunakan oleh slogan yang hendak digantinya. “So nyanda ada kalimat laeng yang bisa mo pake?” Sedangkan dua kata berikutnya juga tidak terdengar terlalu orisinal jika bukannya malah klise. Dan ketika semua kata itu dirangkai menjadi satu kesatuan slogan, yang terdengar adalah gema dari dengung khotbah mingguan dan/atau jumatan.

Kita bukannya jemu dengan khotbah mingguan dan/atau jumatan itu tapi hanya mengharapkan bahwa pasangan Sulut Hebat ODSK bisa lebih kreatif dalam membuat slogan. Tapi jika harapan ini dianggap tidak penting maka kita boleh bertanya, apa pentingnya mereka membuat slogan baru?

Blunder ketiga yang menciptakan hattrick mengejutkan itu adalah inisiatif yang, belakangan, dibilang tidak hendak mengganti tapi sekedar menambah slogan bagi masyarakat Sulut hanya akan menambah kekuatiran bahwa kita sedang berada pada periode kepemimpinan politik yang sloganistis.

Iverdixon Tinungki, seorang penyair kawakan Sulawesi Utara, menulis status pada dinding facebook miliknya bahwa Sulut setidaknya sudah punya lima slogan. Seorang kawan, yang sedang berada dalam perjalanan ke Bitung waktu itu, membacanya dan seketika merasa dipelintir getir. Dia menelpon saya memberitahukan soal itu.

Saya membaca status Iver dan menulis komentar dengan khidmat: Dan jadilah Sulut negeri bertabur slogan. Di belokan jalan antara Manado dan Minut, seorang kawan bertanya, “Untuk apa?” Ya, untuk apa?

Seorang kawan lain penggemar media sosial dan maniak hashtag menjawab iseng (atau mungkin serius), “Supaya kita pe hashtag bisa panjang skali...” #TorangSamuaBasudaraSulutHebatPemimpinHebatMembangunTanpaKorupsiTorangSamuaCiptaanTuhan. Hebat!. (***)

Post a Comment

Suara Pembaharu

{picture#https://lh3.googleusercontent.com/-KxCpQnd7tqI/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAAJk/t239p-tSaZY/s120-c/photo.jpg} Media Online, Suara Pembaharu. Menyajikan Informasi Aktual & Terpercaya. {facebook#http://facebook.com} {twitter#http://twitter.com} {google#http://google.com} {youtube#http://youtube.com} {instagram#http://instagram.com}
Powered by Blogger.