Suara Pembaharu ideas 2017

Robert Wolter Monginsidi
Senin, 5 September 1949 hari penghukuman putera terbaik bangsa, Bote atau lebih dikenal Robert Wolter Monginsidi. Dengan keberanian dan keteguhan, berdiri tegak di hadapan regu penembak dan menolak menutup matanya ketika dieksekusi mati.

Sesaat sebelum menuju ke lokasi penembakan, Wolter menjabat tangan para regu penembak dan menyampaikan, " Laksanakan tugas saudara, saudara-saudara hanya melaksanakan tugas dan perintah atasan, saya maafkan saudara-saudara dan semoga Tuhan mengampuni dosa-dosa saudara-saudara," ucap Wolter.

Ketegaran dan keteguhan hati Wolter pun terlihat saat menghadapi moncong-moncong senjata yang akan menembus tubuhnya dan menolak matanya untuk ditutup.

 Dengan hati dan mata terbuka, aku ingin melihat peluru penjajah menembus dadaku," pinta Wolter saat akan dieksekusi mati.

Dengan pekikan "Merdeka….Merdeka..Merdeka.. !!! dari Wolter, 8 butir peluru pun dimuntahkan ke tubuhnya, 4 peluru kemudian menembus dada kiri, 1 di dada kanan, 1 di ketiak kiri menembus ketiak kanan, 1 dipelipis kiri dan 1 di pusar, dan seketika ia terkulai. Wolter pun gugur di usia 24 tahun.

Ketika Wolter dieksekusi mati, sebuah tulisan ditemukan pada Alkitab yang dibawahnya ketika eksekusi dilakukan. "SETIA HINGGA TERAKHIR DALAM KEYAKINAN" dan itulah akhir kisah perjuangan Robert Wolter Monginsidi.

Memang masa perjuangannya terlalu singkat, Tapi masa perjuangannya telah ditumpahkan dalam pergulatan batin, wawasan dan cakrawala pikiran yang luas. Semangat nasionalisme dan jiwa patriotisme serta kecerdasannya tidaklah sependek waktu perjuangan yang dipersembahkannya untuk ibu pertiwi.

Wolter: “Jangan takut melihat masa yang akan datang. Saya telah turut membersihkan jalan bagi kalian meskipun belum semua tenagaku kukeluarkan.”

Baca Juga :
Tragedi 1814 : Dibumihanguskan Washington DC oleh Tentara Inggris
Amien Rais, PAN Dan Cita-cita Reformasi

Koesoemah Atmadja, Sosok Kunci Lahirya MA, Disahkan UUD 1945 dan Dilantiknya Presiden Soekarno

Wolter semasa hidupnya dikenal sangat ahli dalam penyamaran, hal itu juga didukung oleh warna kulit yang putih dan perawakannya yang tak seperti orang pribumi. Ia salah satu pejuang yang sangat sulit ditangkap, walau sempat beberapa kali berhadapat langsung dengan bala tentara Belanda. Tapi akhirnya juga 28 Februari 1947 Wolter ditangkap bala tentara Belanda di Sekolah SMP Nasional Makassar. Wolter kemudian dipenjara, kakinya dirantai, dan dikurung dibalik terali besi.

Sebagai seorang muda yang pantang menyerah dan memiliki semangat juang tinggi, ia tak lantas putus asa dan menyerah begitu saja. Pantang baginya untuk menyerah tanpa bereaksi atau berbuat apa-apa. Ia tetap gigih berjuang walau dari balik terali besi. Hasilnya? Nyata terlihat. Pada suatu malam tepat di tanggal 17 Oktober tahun 1948, bersama dengan Abdullah Hadade, HM Yoseph dan Lewang Daeng Matari, Wolter berhasil melarikan diri dari penjara melalui cerobong asap dapur. Uniknya lagi sebelum pelarian dilaksanakan, kawan-kawan Wolter dari luar telah menyelundupkan dua buah granat tangan yang dimasukan di dalam roti.

Sayang sekali, Wolter hanya bisa menghirup udara kebebasannya selama sepuluh hari. Bahkan impian besarnya untuk terus melawan para penjajah secara langsung mesti kandas untuk kedua kalinya. Pasukan Belanda berhasil menyekap Wolter pada tanggal 28 Oktober 1948. Pasukan Belanda dengan cerdiknya memberikan tawaran uang bagi siapa saja yang sanggup menyerahkan Wolter, atau memberitahukan dimana Wolter bersembunyi.

Bukan main busuknya para penghianat tersebut. Hanya dengan uang mereka rela dan tega menghianati perjuangan yang dibangun dengan darah, keringat, dan air mata. Hampir di mana saja pasti akan ada mata-mata Belanda. Makanya jangan heran kalau sampai Wolter pun mengatakan “Tidak ada lagi bantal untuk kubaringkan kepalaku di sini.” 


Wolter kemudian divonis hukuman mati 26 Maret 1949 oleh hakim Meester B Damen. Pada masa penantian hukuman mati yang akan dijatuhkan atasnya, Wolter mengambil waktu untuk merenungi kembali catatan perjalanan kepejuangannya. Ia mungkin akan segera mati, tapi ia sungguh tak ingin keinginan hatinya ikut mati bersamanya. Ia tak sudi motivasi perjuangan ikut mati bersamanya. Robert Wolter Monginsidi menulis banyak rangkaian kata penuh makna untuk saudara-saudaranya, dan juga untuk kawan-kawan muda seperjuangannya sebagai ungkapan ‘keinginan bulatnya’ dan kesetiaannya terhadap ibu pertiwi. Tentu juga terkandung segala harapan-harapan besarnya untuk terus meneruskan perjuangan suci buat bangsanya tercinta Indonesia.

Raga Boleh Mati, Tapi Perjuangan Jalan Terus, Ada beberapa goresan penanya dalam menyemangati dan memotivasi saudara, kawan, rekan-rekan anak bangsa yang terekam, Antara lain seperti.

"Jangan takut melihat masa yang akan datang. Saya telah turut membersihkan jalan bagi kalian meskipun belum semua tenagaku kukeluarkan,"

"Jangan berhenti mengumpulkan pengetahuan agar kepercayaan pada diri sendiri tetap ada dan juga dengan kepercayaan teguh pada Tuhan, janganlah tinggalkan Kasih Tuhan, karena itu akan mengatasi segala-galanya,"

"Apa yang saya bisa tinggalkan hanyalah rohku saja yaitu roh untuk ‘setia hingga akhir pada tanah air’ dan tidak mundur sekalipun menemui rintangan apapun menuju cita-cita kebangsaan yang ketat,"

"Perjuanganku terlalu kurang, tapi sekarang Tuhan memanggilku, rohku saja yang akan tetap menyertai pemuda-pemudi…semua air mata, dan darah yang telah dicurahkan akan menjadi salah satu fondasi yang kokoh untuk tanah air kita yang dicintai Indonesia,"

Penghargaan Robert Wolter Monginsidi

Untuk menghormati perjuangannya, maka sederet penghargaan dianugerahkan pemerintah Indonesia kapada sang pahlawan Robert Wolter Monginsidi. Keharuman namanya, seperti Bintang Gerilya (tahun 1958), Bintang Maha Putera Kelas III (tahun 1960), serta ditetapkannya sebagai Pahlawan Nasional (1973).

Post a Comment

Suara Pembaharu

{picture#https://lh3.googleusercontent.com/-KxCpQnd7tqI/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAAJk/t239p-tSaZY/s120-c/photo.jpg} Media Online, Suara Pembaharu. Menyajikan Informasi Aktual & Terpercaya. {facebook#http://facebook.com} {twitter#http://twitter.com} {google#http://google.com} {youtube#http://youtube.com} {instagram#http://instagram.com}
Powered by Blogger.