Suara Pembaharu ideas 2017

Soe Hok Gie di Puncak Pangrango 1967
17 Desember 1942, Indonesia diberkahi dengan kelahiran Soe Hok Gie, sosok kaliber, idealis, kritis dan komitmen atas Indonesia. Sayang Soe tak berumur panjang, Ia meninggal di Gunung Semeru, 16 Desember 1969 di umur 26 tahun.

Semasa hidupnya, Soe dikenal sebagai aktivis Indonesia beretnis Tionghoa yang menentang kediktatoran Presiden Soekarno dan Soeharto. Ia sendiri adalah mahasiswa Fakultas Sastra Universitas Indonesia Jurusan Sejarah tahun 1962–1969. Soe juga menjadi salah satu tokoh penting dalam pergerakan mahasiswa pada masanya, dan namanya melejit karena catatan hariannya yang dibukukan oleh LP3ES

"Sejarah dunia adalah pemerasan. Apakah tanpa pemerasan, sejarah tidak ada? Apakah tanpa kesedihan, tanpa pengkhianatan sejarah tidak akan lahir? Seolah-olah bila kita membagi sejarah maka yang kita jumpai hanya pengkhianatan, Seolah-olah dalam setiap ruang dan waktu kita hidup diatasnya. Ya, betapa tragisnya"

Kata-kata diatas adalah pemikiran Soe Hok Gie yang dipaparkannya saat baru lulus SMA di tahun 1961. Tak heran jika Soe sudah begitu kritis saat SMA karena sejak SMP dirinya sudah banyak membaca buku karya Spengler, Shakespeare, Andre Gide, Amir Hamzah dan Chairil Anwar, Bernard Shaw, Shokolov di antaranya. Mungkin memang sejak kecil Soe sudah menaruh minat pada sastra. Selain wawasannya yang luas Soe Hok Gie juga terkenal sebagai pemuda yang idealis, moralis dan menjunjung teguh keadilan. sikap idealis nya sangat tergambarkan dalam catatan hariannya.

"Minggu-minggu ini adalah hari terberat untuk saya, karena saya memutuskan bahwa saya akan bertahan dengan prinsip-prinsip saya. Lebih baik diasingkan daripada menyerah pada kemunafikan". 

(salah satu kutipan yang menggambarkan Dirinya seorang idealis murni)

Catatan hidup Soe Hok Gie tergambar dalam sebuah buku "Catatan Sang Demonstran" yang merupakan kumpulan dari catatan harian Soe Hok Gie. Buku ini pun dibagi menjadi 8 bagian, pendahuluan Soe Hok Gie : Sang demonstran, Masa kecil, di ambang remaja, lahirnya seorang aktivis, catatan seorang demonstran, perjalanan ke amerika, politik, pesta dan cinta, dan mencari makna.

Kita, generasi kita ditugaskan untuk memberantas generasi tua yang mengacau. Generasi kita yang menjadi hakim atas mereka yang dituduh koruptor-koruptor tua, seperti… Kitalah yang dijadikan generasi yang akan memakmurkan indonesia”  Kita, mahasiswa sejak dulu hingga saat ini tetaplah generasi penerus bangsa untuk masa yang akan datang. (Soe Hok Gie)
Biografi Soe Hok Gie
Setelah menghabiskan tahun-tahun terakhirnya di SMA Kolese Kanisius, Soe kuliah di Universitas Indonesia (UI) dari tahun 1962 sampai 1969; setelah menyelesaikan studi di universitas, ia menjadi dosen di almamaternya sampai kematiannya. Ia selama kurun waktu sebagai mahasiswa menjadi pembangkang aktif, memprotes Presiden Sukarno dan PKI. Soe adalah seorang penulis yang produktif, dengan berbagai artikel yang dipublikasikan di koran-koran seperti Kompas, Harian Kami, Sinar Harapan, Mahasiswa Indonesia, dan Indonesia Raya. Setelah Riri Riza merilis film berjudul Gie pada tahun 2005, artikel-artikelnya disusun oleh Stanley dan Aris Santoso yang diterbitkan dengan judul Zaman Peralihan oleh penerbit GagasMedia.

Sebagai seorang pendukung hidup yang dekat dengan alam, Soe seperti dikutip Walt Whitman dalam buku hariannya: "Sekarang aku melihat rahasia pembuatan orang terbaik itu adalah untuk tumbuh di udara terbuka dan untuk makan dan tidur dengan bumi." Pada tahun 1965, Soe membantu mendirikan Mapala UI, organisasi lingkungan di kalangan mahasiswa. Dia menikmati kegiatan hiking, dan meninggal karena menghirup gas beracun saat mendaki gunung berapi Semeru sehari sebelum ulang tahun ke 27. Dia meninggal bersama rekannya, Idhan Dhanvantari Lubis. Dia dimakamkan di tempat yang sekarang menjadi Museum Taman Prasasti di Jakarta Pusat.[4]

Soe pernah menulis dalam buku hariannya:
"Seorang filsuf Yunani pernah menulis ... nasib terbaik adalah tidak dilahirkan, yang kedua dilahirkan tetapi mati muda, dan yang tersial adalah umur tua. Rasa-rasanya memang begitu. Bahagialah mereka yang mati muda."
Pernyataan Soe serupa dengan komentar Friedrich Nietzsche, kepada seorang filsuf Yunani.
Buku hariannya diterbitkan pada tahun 1983, dengan judul Catatan Seorang Demonstran yang berisi opini dan pengalamannya terhadap aksi demokrasi. Soe dalam tesis universitasnya juga diterbitkan, dengan judul Di Bawah Lantera Merah.

Buku harian Soe ini menjadi inspirasi untuk film 2005, berjudul Gie, yang disutradarai oleh Riri Riza dan dibintangi Nicholas Saputra sebagai Soe Hok Gie. Soe juga merupakan subjek dari sebuah buku 1997, yang ditulis oleh Dr John Maxwell yang berjudul Soe Hok Gie-: Diary of a Young Indonesian Intellectual. Buku itu diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia pada tahun 2001, dan berjudul Soe Hok Gie: Pergulatan Intelektual Muda Melawan Tirani.

Gie dikenal sebagai penulis produktif di beberapa media massa, misalnya Kompas, Harian Kami, Sinar Harapan, Mahasiswa Indonesia, dan Indonesia Raya. Sekitar 35 karya artikelnya (kira-kira sepertiga dari seluruh karyanya) selama rentang waktu tiga tahun Orde Baru, sudah dibukukan dan diterbitkan dengan judul Zaman Peralihan (Bentang, 1995). Juga skripsi sarjana mudanya perihal Sarekat Islam Semarang, tahun 1999 diterbitkan Yayasan Bentang dengan judul Di Bawah Lentera Merah. Sebelumnya, skripsi S1-nya yang mengulas soal pemberontakan PKI di Madiun, juga sudah dibukukan dengan judul Orang-orang di Persimpangan Kiri Jalan.

Tulisan ini diolah dari berbagai sumber

Post a Comment

Suara Pembaharu

{picture#https://lh3.googleusercontent.com/-KxCpQnd7tqI/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAAJk/t239p-tSaZY/s120-c/photo.jpg} Media Online, Suara Pembaharu. Menyajikan Informasi Aktual & Terpercaya. {facebook#http://facebook.com} {twitter#http://twitter.com} {google#http://google.com} {youtube#http://youtube.com} {instagram#http://instagram.com}
Powered by Blogger.