Suara Pembaharu ideas 2017

5 Desember 2013, tepatnya 3 tahun yang lalu. Nelson Mandela, Seorang revolosioner anti-Apartheid meningal dunia di umur 95 Tahun. Siapa yang tidak mengenal sosok Nelson Mandela, sang Presiden Afrika Selatan pertama berkulit hitam, yang lebih sering mengenakan baju batik di pentas Internasional.
Nelson Mandela
Dalam kisah hidupnya, Nelson Mandela pernah dituduh melakukan tindakan makar terhadap pemerintahan rezim kulit putih, karena bertekad memperjuangkan anti Apartheid yang diawali dengan aktif di Partai Kongres Nasional Afrika (ANC). Mandela akhirnya dijebloskan kedalam penjara oleh pemerintah saat itu, di kepulauan Robben, Afrrika Selatan - layaknya Nusa Kambangan selama 27 Tahun. Sungguh sebuah penderitaan yang teramat lama baginya, karena Mandela harus menghabiskan lebih dari seperempat hidupnya dalam penjara. Mandela pun mengalami penderitaan dan siksaan yang tidak terkira dalam penjara, karena rezim saat itu berharap agar rakyat Afrika selatan melupakannya.

Mengenal Sosok Umar Khayyam, Ilmuwan Cerdas di Abad Pertengahan

Didalam penjara Mandela mengalami penderitaan yang sangat buruk, mungkin paling buruk yang bisa dibayangkan orang. Dirinya ditempatkan di dalam sel tanpa dipan, kerja paksa di siang hari, diisolasi jika melawan, kelaparan sepanjang waktu karena ransum yang selalu minim, siksaan dan teror mental, serta rasa sepi yang berkepanjangan. Pada tahun pertama di penjara, ibu Mandela meninggal dunia. Beberapa bulan kemudian anak tertuanya tewas dalam sebuah kecelakaan. Dan disaat pemakaman kedua orang terkasihnya tersebut, Mandela malah tidak diijinkan untuk menghadirinya. Lalu kemudian putri bungsunya lahir, tapi sayangnya Mandela baru bisa berikan kesempatan melihatnya saat anaknya menginjak usia 17 tahun.

Mandela bahkan diisolasi dari dunia luar. Dalam setahun, dirinya hanya diperkenankan menerima satu kunjungan, itu pun di batasi selama 30 menit. Per enam bulan Mandela hanya diperbolahkan menerima dan mengirim satu surat saja. Fotonya dilarang disebarkan. Tujuanya jelas, agar rakyat kulit Hitam Afrika Selatan melupakan sosok Nelson Mandela.

Sungguh teramat berat dan luar biasa penderitaan yang dialami Nelson Mandela, tak pernah terbayangkan seperti apa rasanya. Namun apa yang dialami Nelson Mandela di dalam penjara tidak membuat dirinya lemah bahkan menyerah untuk terus berjuang sebagai pejuang anti-apartheid. Justru Mandela menjadi semakin kuat secara mental dan kepribadianya. Di dalam penjara, Mandela merubah dirinya dari seorang pejuang radikal yang tak sabaran dan nekat dalam mengambil resiko, menjadi pribadi yang bijak dan matang. Mandela mengambil jalur transendental yang tidak lagi melihat, merasakan, dan menghayati penjara sebagaimana mestinya, namun lebih memilih menggunakan segenap hatinya, semua indra rohaninya, untuk melakoni pengalaman penjara dengan penuh total, dan kesyukuran. Sel penjara yang pada umumnya menjadi sebuah ruang kematian, diubah menjadi sebuah ruang kelahiran barunya.

Bote, Bocah Pemberani Asal Malalayang

Tanpa ngotot dengan solusi hukum, Mandela mengambil tanggungjawab total atas kondisinya dengan tidak pernah mau terpancing untuk bertindak di bawah martabat dan harga dirinya sebagai manusia. Mandela bahkan menolak untuk mengeluh, tidak bersikap cengeng. Anti baginya dengan bersungut-sungut. Mandela pun tak pernah mengemis belas kasih dari para sipir di penjara untuk mendapat perlakuan lebih baik. Walau di dalam penjara, Nelson Mandela sering mendapat perlakuan yang tidak manusiawi dari para sipir penjara. Ia tetap meneguhkan hatinya dengan lebih menggunakan hatinya, dengan lebih menggunakan segala kecerdasan, keramahan, serta rasa humornya. Mandela lebih memilih perlawanan moral tanpa kekerasan, seperti halnya Mahatma Ghandi. Mungkin karena hal itu juga, yang merubah sipir penjara kejam tunduk pada kewibawaanya. Karena sikap dan tindakan inilah yang menjadikan aura kepribadianya bersinar terang dan memancarkan kewibawaan moral yang sangat kuat, yang cahayanya tidak sekedar menembus dinding-dinding penjara di kepulauan Robben, namun bahkan lebih jauh melampaui Afrika Selatan.

Meskipun Nelson Mandela kenyang dengan siksaan dan ketidakadilan, ia lebih  menetralkan tuntutan rasa keadilanya sehingga ia dapat mengampuni kaum kulit putih sebelum seruan minta maaf datang. Karena disana Ia  lebih sering masuk kedalam ruang hatinya yang paling dasar dan bertemu dengan Khaliknya. Sehingga ia dapat merasa lebih damai dan tenteram, yang memberikan keyakinan bahwa suatu saat akan bebas. Dengan sikap dan mental seperti itulah yang menjadikan Nelson Mandela menjadi seorang pemimpin sejati yang kharismatik. Setelah dipenjara selama 27 tahun  akhirnya dia dapat menghirupudara bebas dan  dapat memimpin kaumnya untuk berdamai dengan penindas kaum kulit putih. Bahkan Mandela memilih bekerja sama dengan rezim Presiden de Klerk untuk meruntuhkan dan membongkar sistem appartheid itu sendiri. Pada tahun 1992 Nelson Mandela terpilih sebagai Presiden kulit hitam pertama di Afrika Selatan secara demokratis. Dunia pun menjadi tercengang. Dan pada tahun 1994 Presiden Mandela bersama de Klerk dianugerahi Hadiah Nobel Perdamaian dari PBB.

Amien Rais, PAN Dan Cita-cita Reformasi

Itulah Nelson Mandela, seorang pribadi kharismatik dan berwibawa yang masih saja anggun dan bijaksana walau dipenjara 27 tahun oleh lawan politiknya. Seorang aktifis yang harus memperjuangkan persamaan hak antara warga kulit hitam dan kulit putih.

Cerita ini diolah dari beberapa sumber

Post a Comment

Suara Pembaharu

{picture#https://lh3.googleusercontent.com/-KxCpQnd7tqI/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAAJk/t239p-tSaZY/s120-c/photo.jpg} Media Online, Suara Pembaharu. Menyajikan Informasi Aktual & Terpercaya. {facebook#http://facebook.com} {twitter#http://twitter.com} {google#http://google.com} {youtube#http://youtube.com} {instagram#http://instagram.com}
Powered by Blogger.