Suara Pembaharu ideas 2017

"Saya tidak malu mengakui kebodohan saya terhadap apa yang tidak saya ketahui"

(Marcus Tullius Cicero)

7 Desember 43 SM, Marcus Tullius Cicero atau lebih dikenal Cicero seorang filsuf, orator yang memiliki keterampilan handal dalam retorika, pengacara, penulis, dan negarawan Romawi kuno yang umumnya dianggap ahli pidato Latin dan ahli gaya prosa meninggal dunia.
Sebuah patung dada (bust) pada abad 1M di Capitoline Museums, Roma
Cicero merupakan tokoh besar mazhab filsafat Stoa yang populer pada abad 4 SM (Sebelum Masehi) sampai abad 2 M (Masehi). Dirinya merupakan salah satu tokoh pada periode akhir yang lebih terkenal dengan sebutan Stoa Romawi. Selain itu, ia dan pemikirannya juga dianggap dekat dengan aliran Platonisme dan Epikureanisme. Pemikirannya banyak dirujuk dalam pemikiran hukum dan tata negara, serta pemikiran filsafat lainnya.

Karya dan pemikiran Cicero juga dikagumi beberapa Bapa Gereja Latin yang berpengaruh, seperti Santo Agustinus dari Hippo, yang mengungkapkan karyanya Hortensius merupakan salah satu pendorong beralihnya ia kepada Kekristenan, dan St. Hieronimus yang mengalami kegelisahan karena mendapat penglihatan bahwa ia dituduh sebagai "pengikut Cicero dan bukannya Kristus" pada saat penghakiman khusus.

Cicero dikenal sebagai negarawan yang berusaha menegakkan prinsip-prinsip republik dalam perang sipil, kegagalannya menyebabkan perang sipil hingga menghancurkan Republik Romawi. Tulisan-tulisannya meliputi retorika, pidato, risalah filsafat dan politik, dan surat-surat.

Cicero sejak kecil sudah dididik, diarahkan pada hal-hal yang bersifat klasik hingga suatu saat siap berkarier dalam bidang hukum. Karena minatnya pada sastra yang sangat tinggi, Cicero rela meninggalkan kota kelahirannya menuju Athena, dan Rhodes. Di kota inilah ia mendalami filsafat dan retorika, termasuk ajaran para stoisisme. Setelah kembali ke Roma, ia menikah dan berkarier dalam bidang politik praktis. Karier politiknya pun cepat menanjak. Ia sempat menjabat sebagai anggota senat.

Cicero adalah orator dan negarawan Romawi kuno yang umumnya dianggap sebagai ahli pidato Latin dan ahli gaya prosa. adalah seorang Romawi filsuf, negarawan, pengacara, ahli teori politik, dan Romawi konstitusionalis . Dia dianggap sebagai salah satu terbesar Roma orator dan penata prosa. Cicero adalah pemikir besar Romawi tentang negara dan hukum. Pemkiran Cicero banyak dipengaruhi oleh karya-karya Plato dan ajaran filsafat kaum Stoa. Pengaruh yang demikian besar ini nampak dalam dua karya Cicero, yaitu De Republica (tentang negara), dan De Legibus (tentang hukum dan Undang- Undang). Cicero lebih dikenal sebagai seorang filsuf dan negarawan ketimbang seorang pengacara. Hal itu tak terlepas pada kecintaannya akan kebijaksanaan-kebijaksanaan filsafat Yanani kuno baik pra sokratik maupun post sokratik. Cicero adalah salah satu pemikir legendaris di bidang politik pada jaman klasik.

Dua karya Cicero, yaitu De Republica (tentang negara), dan De Legibus (tentang hukum atau undang-undang). Ajaran Cicero pula tentang asal mula negara memang tidak berbeda dengan ajaran Plato, yakni melalui perjanjian masyarakat dan kontrak sosial. Namun disisi lain, Cicero telah memodifikasi pemikiran Plato dengan memasukkan pengaruh-pengaruh Stoic didalamnya.

Buku Cicero yang terkenal adalah De Republica (Commenwealth) punya kemiripan dengan bukunya Plato yang berjudul Republic. Isinya berbentuk dialog antara para sahabatnya. Topik utamanya berkaitan dengan tema-tema politik dan keadilan. Dalam bukunya ini, ada lima ajaran utama Cicero tentang kehidupan politik dalam sebuah Negara.

Pertama, Cicero mengkonfrontasikan pertanyaan kewajiban para filsuf dalam Negara. Kedua, membahas tentang sifat persemakmuran (commenwealt). Baginya, commenwealt adalah sebuah urusan rakyat. Manusia adalah makhluk sosial alami, dan membentuk masyarakat politik. Ketiga, diskusi tentang hukum alam. Menurut Cicero, hukum alam adalah konvensi-konvensi relative yang hanya melayani kepentingan mereka yang berkuasa. Keempat, pembelaan keadilan sebagai sebuah atribut universal dari akal dan dapat diakses oleh semua makhluk rasional. Hal ini bertujuan untuk menentang keputusan-keputusan para pemimpin politik, dan perang yang terjadi atas nama Negara. dan Kelima, mendiskusikan ciri-ciri penguasa yang baik. Moral baik dan sifat praktis penguasa menjadi kekuatan yang dapat memberi motivasi.

Dalam pandangan Cicero, negara adalah suatu kenyataan yang harus ada dalam kehidupan manusia. Negara disusun manusia berdasarkan kemampuan rasionya, khususnya rasio murni manusia yang disesuaikan dengan hukum alam kodrat. Kendatipun ajaran Cicero berbeda dengan ajaran Epicurus yang menganggap negara sebagai hasil perbuatan manusia yang berfungsi sebagai alat untuk memenuhi kebutuhan mereka, namun ajaran Cicero ini jelas menunjukkan konsep perjanjian masyarakat tentang asal mula negara.

Dalam mengkonstruksi negara idealnya, cicero menurut model Republik Romawi, dalam bukunya yang berjudul De Republica (On The Commonwealth), menawarkan sebuah bentuk negara yang menganut konstitusi campuran, yaitu sebuah konstitusi yang mengawinkan kebaikan dari berbagai sistem politik yaitu; sistem monarki, aristokrasi, dan demokrasi. Monarki di mata Cicero dipandang memiliki kebaikan, karena dalam sistem ini keberadaan seorang raja layaknya seorang bapak yang akan mengayomi anak-anaknya. Namun rakyat memiliki bagian yang telalu kecil dan suara yang tidak signifikansi dalam administrasi. Aristokrasi dalam pandangannya pun memiliki kebaikan, yaitu kebijaksanaan akan memimpin dan membimbing negara. Namun kebebasan rakyat terlalu dibatasi karena tidak dilibatkan dalam pembagian kekuasaan politik. Sedangkan demokrasi walau dinilai oleh Plato dan Aristoteles merupakan sebuah sistem yang buruk, bagi Cicero demokrasi juga memiliki kelebihan karena memberi ruang pada rakyat untuk aktif berpartisipasi dalam kehidupan politik. Namun, menurut Cicero ketiganya terlalu mudah merosot karena bentuknya yang jahat karena masing-masing memiliki kekurangan yang membusukkannya. Monarkhi menjadi tirani, aristokrasi menjadi pluktorasi atau ologarkhi, dan demokrasi menjadi hukum rimba.

Cicero percaya bahwa sifat negara ideal secara esensial bergantung pada pengaturan- pengaturan institusional para pejabat publik. Kepala diantara mereka adalah para senator, dan ia melihat senat sebagai inti sistem hukum dan kekuasaan yang direkomendasikannya. Senat sebaiknya menngontrol kebijakan publik. Kata kunci yang diartikan cicero tentang kekuasaan adalah dominus, "pakar" kebijakan publik. Bahwa keutamaan senat dalam suatu negara adalah berada dalam konstitusi.

Dalam bukunya kedua, yaitu De Legibus, Cicero memperluas mengenai apa yang disebut hukum alam. Cicero mendefenisikan hukum adalah nalar tertinggi yang ditanamkan ke alam yang memerintahhkan apa yang mesti dilakukan dan melarang hak yang sebaliknya. Hukum adalah kekuatan alamiah, ia merupakn pikiran dan nalar manusia yang cerdas, standar yang digunakan untuk mengukur keadilan dan ketidakadilan. Namun, karena seluruh pembahasan harus sejalan dengan nalar penduduk seringkali perlu membahasnya dengna nalar yang popular, dan memberi nama hukum apa yang dalam bentuknya yang tertulis memutuskan apa pun yang dia kehendaki baik berupa perintah dan larangan. Sebab, inilah defenisi hukum yang biasa dipakai.

Cicero menekankan, hukum apa pun yang dibuat oleh manusia atau tradisi apaun yang mereka praktekkan, yang tidak sesuai dengan hukum alam itu tidak absah. Manusia mngkin saja dipaksa oleh kekuatan fisik penguasa yang lebih superior untuk mematuhi keutusan- keputusan yang bertentangan dengan alam tetapi dia memiliki kewajiban untuk melakukannya. Dengan demikian, manusia bukan merupakan subyek badi hukum yang dibebankan kepadanya melainkan hanya untuk “hukum alami” yang dia berikan kepada dirinya sendiri.

Cicero bersama Plato, dan Polybius adalah pembela gigih dari kegunaan sosial dari agama. Cicero percaya bahwa agama melegitimasi tindakan- tindakan pemerintah dan membujuk para warga negara untuk menghormati institusi- institusi mereka dan penghargaan terhadap para penguasa serta kebijakan- kebijaknnya, jadi mencipatakan satu basis dukungan yang luas dan loyalitas yang bertahan lama. Singkatnya agama adala pondasi mutlak yang krusial bagi pendidikan dan keluhuran sipil, kesatuan dan ketertiban negara. Alasan- alasan Cicero mengapa agama penting bagi negara adalah yang utama, agama memberikan kewenangan kepada negara sehingga memungkinkannya memerintahkan loyalitas dan kepatuhan dari warga negara. Seandainya negara dianggap didirikan oleh dewa, maka seluruhnya yang dikerjakan memiliki legitimasi. Para warga negara yang akhirnya percaya bahwa dewa- dewa selalu mengawasi, akan berhati- hati dalam perilaku individual mereka dan mencermati sikap- sikap buruk mereka, sepertinya akan menuruti petunjuk moral dan komunitas. Akhirnya pengaruh sosial bersih dari agama adalah penjinakan dan menenangkan rakyat. Ia mengangkat rakyat keluar dari kebiadaban dan barbarisme dan menjadi instrumen dalam pembentukan suatu jalan hidup ang harmoni, sempurna dan beradab. Melalui agama sebuah masyarakat yang damai dan tertib adapat diteguhkan, memiliki moral, kegigihan, kekuatan yang diperlukan untuk penjagaan diri dari dunia yang kejam.

Berita ini diolah dari berbagai sumber

Post a Comment

Suara Pembaharu

{picture#https://lh3.googleusercontent.com/-KxCpQnd7tqI/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAAJk/t239p-tSaZY/s120-c/photo.jpg} Media Online, Suara Pembaharu. Menyajikan Informasi Aktual & Terpercaya. {facebook#http://facebook.com} {twitter#http://twitter.com} {google#http://google.com} {youtube#http://youtube.com} {instagram#http://instagram.com}
Powered by Blogger.