Suara Pembaharu ideas 2017

Penulis : Mitra Sami Gultom M.E.I
Aktivis Perempuan Muhammadiyah


Hari ini diperingati sebagai hari Hak Asasi Manusia se-dunia. Seperti biasa, masyarakat dunia menandai hari HAM dengan kembali mengangkat kasus-kasus pelanggaran HAM. Di Indonesia sendiri, kasus yang sering diangkat adalah kematian aktivis Munir yang hingga kini belum  juga menemui ujungnya, juga beberapa kasus lainnya.

Di luar berbagai kasus pelanggaran HAM tersebut, kita seakan lupa bahwa masih banyak kasus pelanggaran HAM, apalagi jika dikaitkan dengan Hak Asasi Kaum Pekerja Perempuan. Karena di era saat ini dengan meningkatnya kebutuhan ekonomi yang berdampak pada naiknya barang kebutuhan hidup, memaksa perempuan untuk turut bekerja keras membantu keluarga. Kondisi tersebut kemudian tidak dapat menempatkan semua perempuan mendapatkan pekerjaan layak, yang dapat memenuhi dan menjaga martabatnya sebagai perempuan, dikarenakan pendidikan rendah dan kecilnya peluang. Tidak sedikit para perempuan harus menjadi buruh pabrik, tenaga kerja ke luar negeri, ataupun bekerja paruh waktu menjual produk tertentu dengan mengedepankan penampilan fisik yang terbuka.

Sebagai negara yang menjunjung tinggi Hak Asasi Manusia dan menempatkan perempuan berada di posisi terhormat, Indonesia harusnya menegakkan dan melindungi kebebasan pekerja perempuan. Sebagai contoh, perempuan yang menjadi pelayan di departemen store maupun sales barang seperti rokok, dengan mayoritas kaum pria menjadi sasarannya, diposisi tersebut pekerja perempuan kemudian "dipaksa" mengenakan seragam yang terbuka dan memperlihatkan bagian tubuh perempuan secara terbuka. Regulasi perusahaan ini seakan "memaksa" pekerja perempuan mengenakan seragam tersebut. Seharusnya, atas nama kebebasan Hak Asasi Manusia, pekerja perempuan diberi kebebasan untuk memilih dan mengenakan apa yang dipakainya, tanpa harus menanggung konsekuensi apapun dari perusahaan tempatnya bekerja atas pilihan tersebut.

Taufan Korompot : Tak Ada Indikasi Makar Dalam Aksi 212

Juga kebebasan dalam atribut keagamaan. Ketika menjelang Idul Fitri, banyak pekerja perempuan sekali lagi "dipaksa" oleh perusahaan tanpa memandang latar belakang agama dan kepercayaannya, harus mengenakan atribut-atribut keagamaan. Apalagi ke depan menjelang natal, lebih ramai lagi atribut-atribut yang harus digunakan oleh pekerja perempuan dengan alasan managemen untuk menarik pelanggan. Sekali lagi, jika ini dipaksakan oleh managemen tentu merupakan pelanggaran Hak Asasi Manusia, pekerja perempuan harus diberi kebebasan apakah akan mengenakan atau tidak mengenakan atribut keagamaan tertentu.

AYO...Paksa Jokowi Pimpin Revolusi

Selain sebagai negara yang menjunjung tinggi HAM, Indonesia juga negara plural yang sangat toleran terhadap perbedaan agama, ras, adat, dan suku. Menjunjung tinggi segala perbedaan yang merupakan kekayaan itu harus benar-benar kita lakukan dalam kehidupan sehari-hari maupun dalam dunia kerja. Karena dengan menjunjung tinggi dan menempatkan penghormatan atas perbedaan di posisi yang utama, dengan itulah kita dapat terus merawat dan menjadikan perbedaan itu sebagai berkah, "given" yang mempererat Indonesia sebagai satu-kesatuan, dan kaum perempuan merupakan simbol bagi kehormatan dan penghormatan anak bangsa terhadap kekayaan dan keragaman bangsanya. Oleh sebab itu, segala hak-hak yang menyangkut dengan martabat dan kewajiban yang harus ditunaikan negara ini kepada perempuan harus diwujudkan, dimulai dari pemenuhan hak pekerja perempuan atas kebebasan dirinya dari eksploitasi dunia kerja.

Pahlawan, Pemuda Dan Bonus Demografi

Post a Comment

Suara Pembaharu

{picture#https://lh3.googleusercontent.com/-KxCpQnd7tqI/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAAJk/t239p-tSaZY/s120-c/photo.jpg} Media Online, Suara Pembaharu. Menyajikan Informasi Aktual & Terpercaya. {facebook#http://facebook.com} {twitter#http://twitter.com} {google#http://google.com} {youtube#http://youtube.com} {instagram#http://instagram.com}
Powered by Blogger.