Suara Pembaharu ideas 2017

Lithograph dari abad ke-19 yang menggambarkan peristiwa Boston Tea Party
16 Desember 1773, dikenal dengan peristiwa Boston Tea Party atau juga disebut Pesta Teh Boston. Peristiwa ini adalah aksi protes penduduk koloni Amerika melawan penjajah Inggris saat itu dengan cara menghancurkan berpeti-peti teh yang berada di tiga kapal di pelabuhan Boston.

Insiden ini berawal saat East India Company (EIC) yang memiliki persedian teh dalam jumlah besar tak bisa menjual barangnya di Inggris, hingga membuat perusahaan tersebut hampir bangkrut. Pemerintah Inggris kemudian turun tangan dan meloloskan Tea Act tahun 1773, dan memberikan hak kepada EIC untuk mengekspor barangnya ke koloni Amerika tanpa harus membayar pajak. Dengan cara ini, EIC akhirnya bisa menjual barangnya terutama teh di bawah harga normal. Tapi kemudian inilah yang memicu konflik akibat monopoli perdagangan yang merugikan pedagang lokal. Kebencian pun terus berlanjut akibat monopoli perdagangan EIC hingga memicu gerakan boikot diantara penduduk koloni. Boikot ini pun mampu memobilisasi banyak pengikut dan menumbuhkan solidaritas antar koloni dan penduduknya. Wanita bahkan turut serta dalam aksi protes dan boikot tersebut  hingga tersususn rencana untuk mencegah kapal EIC berlabuh.

Para agen perdagangan diminta untuk menuruti tuntutan boikot dan meminta kapal yang berisi teh kembali ke Inggris atau menyimpan muatannya di gudang. Namun, para agen perdagangan di Boston menolak dan tetap bersiap menyambut kapal dagang yang berlabuh meski mendapatkan penentangan.

Kamis, 16 Desember 1773, tiga Kapal pembawa teh yang dijadwalkan berlabuh di pelabuhan Boston, yakni The Dartmouth, Eleanor, dan Beaver. Pada malamnya telah bergerak sekelompok pria berjumlah 30 hingga 300 orang yang menyamar sebagai Indian Mohawk dibawah komando Samuel Adam bertolak menuju Wharf Griffin tempat kapal dagang Inggris berlabuh. Saat ketiga kapal berlabuh, para pemrotes yang menyamar sebagai mohawk dengan cepat mengosongkan berpeti-peti muatan teh dari kapal dan membuangnya ke laut. Dan saat pagi tiba, sekitar 45.000 kg teh yang diperkirakan bernilai ₤ 10.000 telah tertumpah ke perairan pelabuhan Boston.

Peristiwa yang dikenal dengan Boston Tea Party ini kemudian mendapatkan reaksi dari pihak pemerintah Inggris maupun pemerintah koloni. Benjamin Franklin mengatakan, bahwa teh yang telah hancur harus dibayar dan dia bahkan menawarkan untuk membayarnya dengan uangnya sendiri. Pelabuhan Boston lantas ditutup pemerintah Inggris dan kemudian memberlakukan berbagai undang-undang diantaranya Intolerable Acts atau Coercive Acts atau Punitive Acts.

Para kolonis kemudian menyebut peraturan ini sebagai undang-undang paksaan yang berisi tentang, Pertama, Menutup pelabuhan kota Boston sampai muatan tehnya selesai dibayar, Kedua, anggota dewan rakyat Massachussetts akan ditunjuk raja Inggris yang sebelumnya dipilih rakyat koloni sendiri, Ketiga, Anggota dewan juri dalam pengadilan ditunjuk Sherif yang merupakan bawahan Gubernur, yang  sebelumnya juga dipilih rapat koloni, dan Keempat, rapat kota diadakan hanya dengan gubernur, walau sebelumnya tidak diperlukan.

Namun berbagai undang-undang yang diberlakukan ini, tidak menyurutkan penduduk koloni untuk melanjutkan aksi perlawanannya seperti pembakaran Peggy Stewart. Boston Tea Party akhirnya memicu Revolusi Amerika. Dan saat itu, banyak penduduk koloni di Boston dan negara bagian lain berkomitmen melakukan boikot dengan tidak mengonsumsi teh. Bahkan dampak dari hal tersebut membuat berbagai dukungan melawan Inggris dengan mengadakan rapat antar koloni pada tanggal 5 Desember 1774, yang kemudian dikenal dengan istilah Kongres Kontinental.

Perang Kemerdekaan Amerika pada mulanya hanya merupakan penetang kebijakan Pemerintah Inggris yang dianggap semena-mena yang saat itu belum terbesit untuk mencapai kemerdekaan. Pertempuran pertama kemudian terjadi di Lexington, dan selanjutnya di Boston. Inggris akhirnya meminta bantuan penduduk Kanada untuk melawan penduduk Koloni Amerika. Namun permintaan itu di tolak dengan alasan senasib sebagai penduduk koloni. Bahkan paksaan Inggris terhadap penduduk Kanada malah menimbulkan pertempuran dan keadaan tersebut dimanfaatkan Bangsa Amerika dengan menyiapkan tentara yang dipimpin George Washington yang pernah berjasa kepada Inggris dalam perang Tujuh Tahun.

Hari Juang Kartika Dan Mengenang Pertempuran Ambarawa

Pada Tahun 1776, Thomas Paine mengutarakan pendapatnya dalam sebuah karangannya yang berjudul 'Comon Sense' berisi tentang gagasan Kemerdekaan. Pendapat Paine itu akhirnya menyadarkan penduduk Koloni Amerika untuk mengubah tujuan perjuangan mereka dari menentang kebijakan Pemerintah Inggris menjadi perjuangan mencapai kemerdekaan. Tulisan tersebut mengejutkan banyak pihak, baik itu pihak kolonis maupun kolonial, sebab Thomas Paine merupakan seorang pemikir politik dan penulis dari Inggris yang menerbitkan pamfletnya dengan tujuan untuk membantu masyarakat koloni.  Efek dari 'Common Sense' ini, semakin membulatkan tekad seluruh koloni untuk memisahkan diri. Namun hal itu tidak segera terwujud karena harus ada kesepakatan dari seluruh koloni demi terwujudnya pencetusan deklarasi kemerdekaan.

14 Desember Irak Merdeka Dari Inggris

Akhirnya 10 Mei 1776, setahun setelah pertemuan pertama Kontinental Kongres Kedua, sebuah resolusi disepakati seluruh koloni untuk memisahkan diri. Peristiwa tersebut diikuti munculnya gagasan untuk mendeklarasikan kemerdekaan atas Inggris pada tanggal 7 Juni 1776 oleh Richard Henry Lee, seorang delegasi dari negara bagian Virginia yang disampaikan pada Kontinental Kongres Kedua. Selanjutnya diadakan kongres Philadelphia yang dihadiri oleh wakil-wakil 13 daerah (Negara bagian). Mereka sepakat untuk menanadatangani sebuah deklarasi yang dikenal dengan Declaration of Independence yang telah disusun oleh Thomas Jefferson pada tanggal 4 Juli 1776 dan dijadikan Hari Kemerdekaan Amerika.

Deklarasi Djuanda Dan Kemenangan Laut Indonesia

Kongres pun kemudian menyepakati adanya Articles of Confederation sehingga terbentuklah United States of America (USA). Deklarasi ini menyebutkan, bahwa hak-hak tiap individu dalam memperoleh kebebasan adalah sama. Bahwa setiap orang memiliki hak asasi masing-masing yang patut diperjuangkan tanpa harus diinjak-injak satu sama lain. Semua yang diperjuangkan sebagai kemerdekaan adalah demi terciptanya kebahagiaan atas nama hak-hak dasar seseorang. Oleh karena itu, hal diatas sebenarnya menjelaskan bahwa pengahapusan perbudakan besar-besaran di Amerika diperlukan adanya. Tidak ada yang berhak menjadi tuan atas lainnya dan mempekerjakannya secara tidak manusiawi. Namun, hak-hak tersebut perlu dipertanggungjawabkan. Dalam artian, harus ada yang mengontrolnya yaitu pemerintah. Pemerintah tersebut berasal dari yang diperintah atau dengan kata lain, demokrasi.

Tulisan ini diolah dari beberapa sumber

Post a Comment

Suara Pembaharu

{picture#https://lh3.googleusercontent.com/-KxCpQnd7tqI/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAAJk/t239p-tSaZY/s120-c/photo.jpg} Media Online, Suara Pembaharu. Menyajikan Informasi Aktual & Terpercaya. {facebook#http://facebook.com} {twitter#http://twitter.com} {google#http://google.com} {youtube#http://youtube.com} {instagram#http://instagram.com}
Powered by Blogger.