Suara Pembaharu ideas 2018

Bitung, Suarapembaharu.com - Lahan Depot Pertamina Kota Bitung yang dimiliki oleh keluarga Alfreds Sompotan, kembali menuntut hak kepada PT Pertamina. Pasalnya gugatan Keluarga Alfrets Sompotan terhadap tanah yang selama ini didiami PT Pertamina itu telah dimenangkan dan mewajibkan untuk memberikan hak kepada para ahli waris.

“Bukan sekedar hak, justru yang kami tuntut tindaklanjut atas putusan hukum perkara ini beberapa tahun lalu, " kata salah satu ahli waris, Athos Sompotan, Selasa (08-08-2017).

Didampingi sejumlah kuasa hukumnya, yakni Welly Andries Sompie, Agung Prabowo, Yohannis KD Porajouw, Sartika Ticoalu, Arisminto Gumolung serta Abdul Rahim Paoki, Athos menjelaskan, sengketa lahan Depot Pertamina sudah punya putusan hukum yang mengikat. Mahkamah Agung melalui putusan Peninjauan Kembali (PK) beberapa tahun silam, memenangkan ahli waris sebagai penggugat dan memerintahkan pengosongan lahan sekaligus mewajibkan Pertamina membayar biaya sewa selama menempati lahan itu.

“Nah, putusan ini yang saya tuntut dilaksanakan. Eksekusi atas putusan itu tidak boleh tidak dilaksanakan, karena itu bertentangan dengan hukum, ” jelasnya. Ia mengaku, pelaksanaan eksekusi sudah sempat dilaksanakan Pengadilan Negeri Kota Bitung pada April 2008 lalu, tapi baru sebagian kecil lahan yang dieksekusi, Pertamina meminta dihentikan saat itu.

“Mereka meminta itu dan berjanji akan membayar semua biaya sewa. Saya dan semua ahli waris pun sepakat, PT Pertamina kami beri waktu tambahan. Tapi sampai sekarang janji itu tidak dipenuhi dan saya tidak pernah menerima apa yang menjadi hak saya,” katanya lagi.

Untuk itu dirinya akan kembali mengajukan permohonan eksekusi karena ia sebagai ahli waris merasa dibohongi PT Pertamina. “Jadi daripada menunggu dalam ketidakpastian, lebih baik dieksekusi saja, apalagi ini tinggal eksekusi lanjutan jadi tidak ada masalah,” pungkasnya.

Sementara itu, Humas Pengadilan Negeri Kota Bitung, Ronald Massang mempersilahkan ahli waris Alfrets Sompotan mengajukan permohonan eksekusi.

“Kami siap meladeni permohonan seperti itu. Tapi memang ada mekanismenya. Apalagi yang kami tahu cuma ada dua ahli waris untuk perkara ini, yaitu keturunan Pontoh dan Tudus,” katanya. Berdasarkan klaim Athos, dirinya tercatat sebagai ahli waris dalam Sertifikat Hak Milik Nomor 1 Bitung Tengah, terbitan tahun 1978 silam. Yang mana sertifikat tersebut mengatasnamakan belasan orang, yaitu Barnetje Rawung, Cowu Rawung, Altje Rawung, Ade Rawung, Barina Rawung, Neltje Oley, Wolter Sompotan, Jan Sompotan, Alfira Kokoy, Wempi Karuntu, Ramei Sumuruk, Marie Sumuruk, Mesak Tangkudung, Neltje Tudus dan Noch Tudus.

Reporter : Yaser Baginda
Editor : Arham Licin

Post a Comment

Suara Pembaharu

{picture#https://lh3.googleusercontent.com/-KxCpQnd7tqI/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAAJk/t239p-tSaZY/s120-c/photo.jpg} Media Online, Suara Pembaharu. Menyajikan Informasi Aktual & Terpercaya. {facebook#http://facebook.com} {twitter#http://twitter.com} {google#http://google.com} {youtube#http://youtube.com} {instagram#http://instagram.com}
Powered by Blogger.