Suara Pembaharu ideas 2017

Sulut, Suarapembaharu.com -Ibadah haji itu berat. Lebih berat lagi setelah menyandang gelar haji. Ia harus memastikan hati dan seluruh tingkah lakunya berdasarkan ketentuan Allah Swt.

Memelihara "Rasa Mabrur" itu jauh lebih berat lagi. Apalagi jika niat dan keberangkatannya tidak punya pegangan ilmu yang cukup. Jika pun niat keberangkatan hajinya sudah benar, sang pemilik gelar haji itu harus memastikan mabrur itu selalu ada di hati. Sampai kapan pun. Mungkin sampai kain ihram menemaninya di liang lahat.

Berbagai hasrat duniawi seringkali melupakan doa agar hajinya mabrur, maka ibadah yang luarbiasa berat ini hanya akan meninggalkan lelah fisik saja.

Haji adalah tempaan ujian yang sebenarnya. Ujian bagi kita yang sudah kaffah menjalankan dan melewati empat rukun Islam sebelumnya,  yakni Syahadat,  Shalat, Zakat dan Puasa. Jika semua ilmunya benar, maka mabrur adalah keniscayaan.

Seorang muslim yang menapaki dan melakukan semua fase rukun Islam dengan benar maka insya Allah akan mabrur. Fase itu sekaligus menunjukkan bahwa ibadah haji adalah puncak perjalanan manusia.

Jadi, mabrur adalah perjuangan. Dan tanda mabrur bisa dicari dengan mudah apabila hajinya itu melahirkan ketaatan yang jauh lebih besar. Namun jangan salah, kemabruran ini bukan seperti mendapatkan sertifikat training. Begitu selesai ibadah haji, dia akan mabrur. Mabrur harus terus diupayakan dengan ilmu, ketaatan dan mendisiplinkan diri di jalan Allah.

Banyak sekali orang yang berhaji dan umroh tanpa ilmu. Anggapannya, dengan membayar ONH atau biaya umroh saja sudah cukup.
Mambrur juga akan membentuk karakter. Dibangun dari keshalihan sebelum berangkat, lewat ilmu manasik yang benar dan ber-Islam secara benar pula, lalu menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah Swt. Mabrur bukan pemberian tapi perjuangan.

Mabrur adalah buah manis dari semua ketaatan. Haji mabrur sama dengan haji yang direstui oleh Allah. Karena direstui, maka Allah senantiasa memberikan hidayah dan kebaikan yang luar biasa banyaknya. Orang yang hajinya mabrur akan mampu meninggalkan kebiasaan buruknya, berganti dengan kemuliaan dunia untuk akhirat.

Akhirnya, haji yang mabrur adalah sebuah perjalanan suci yang mampu mengubah hati. Mabrur sesungguhnya bisa terlihat langsung tanpa jeda waktu. Segi segi kemabruran itu terpancar dari sikap dan mu'amalahnya.

Alangkah indahnya mabrur itu dan kita tetap saja meminta kepada Allah Yang Maha Membolak Balikan Hati. Salah satu karakter mabrur adalah selalu melahirkan amal dan ibadah yang lebih besar serta ketaatan yang jauh lebih besar pula. Dan ketaatan ini hanya akan terhenti disaat kaki kita menginjak surga. Tidak ada kata letih,  lelah atau istirahat sebelum masuk surga.
Wallahu a'lam.

Editor : Arham Licin

Post a Comment

Suara Pembaharu

{picture#https://lh3.googleusercontent.com/-KxCpQnd7tqI/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAAJk/t239p-tSaZY/s120-c/photo.jpg} Media Online, Suara Pembaharu. Menyajikan Informasi Aktual & Terpercaya. {facebook#http://facebook.com} {twitter#http://twitter.com} {google#http://google.com} {youtube#http://youtube.com} {instagram#http://instagram.com}
Powered by Blogger.