Suara Pembaharu ideas 2017

Jakarta, Suarapembaharu.com  - Telah sekian lama pemuda bangsa ini dininabobokan dengan slogan dan janji-janji yang tertulis dan terdengar oleh para elit politik bangsa dan pemerintah dari Sabang sampai Merauke, tetapi sangat minim dalam aktualisasi. Sejak digelarnya pembacaan sumpah pemuda yang dirangkaikan dengan kongres pemuda yang kedua, tepatnya 28 0ktober 1928, sejak itu pula visi pemuda Bangsa ini mulai terkikis oleh budaya baru yang saat ini akrab dibenak anak muda, sebut saja budaya asing yang tak terhindarkan. Pemuda seakan kehilangan arah perjuangannya, lalu perlahan-lahan lupa akan budaya leluhur yang seharusnya diperjuangkan.


Lambat laun saya menyadari bahwa belajar sejarah tidak sekadar memuaskan rasa ingin tahu anak muda, tetapi juga memicu untuk berpikir kritis dan berani. Hasilnya adalah waspada bahwa persoalan Nasionalisme pemuda bangsa ini akan semakin jauh dari perjuangan awalnya, Nasionalisme bukan soal upaya membentengi-diri dari budaya luar, tetapi soal bagaimana kita mengenal, menggali, dan memahami sejarah dan budaya bangsa sendiri.


Pada intinya mendalami sejarah bangsa sendiri inilah yang sering luput dari kurikulum sekolah dan ruang-ruang mahasiswa, sebagaimana pendakuan seorang sastrawan Fenomenal, Pramoedya Ananta Toer “Kalau orang tak tahu sejarah bangsanya sendiri, tanah airnya sendiri. Gampang jadi orang asing di antara bangsa sendiri”.


Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional mencatat tujuan pendidikan Nasional sebagai berikut: “Pendidikan Nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.”


Saya dengan kesungguhan hati sangat marah dengan slogan yang terlalu gampang menuliskan soal kemandirian lalu ia teriakkan didepan masyarakatnya, saat momentum baik ia sedang berpidato. Kemandirian selalu menjadi tema besar, lalu ketika ia menjadi kepala daerah bahkan presiden dirinya seakan-akan amnesia dengan janji mereka, kemandirian daerahnya terhempas dengan kepentingan asing.


Kerinduan yang baik itu selalu ada pada anak muda yang sedang berjuang, tidak ada kebaikan yang berarti bagi mereka yang sejak usia mudanya tidak ia manfaatkan untuk berjuang, tetapi mereka menyusup masuk keruang-ruang anak muda sebagai pionir penguasa, perlakuannya licik lalu sedikit menipu rekan-rekannya, dengan gaya parlente dan bermewah-mewahan, sembari mengagung-agungkan bahwa pemimpin bangsa ini sedang bekerja, pemerintah saat ini sedang berjuang untuk Rakyatnya. Bangsa ini masih membutuhkan anak muda yang berani berteriak dengan lantang berteriak dengan teks penuh makna: “ 1. Kami putra dan putri Indonesia, mengaku bertumpah darah yang satu, tanah air Indonesia 2. Kami putra dan putri Indonesia, mengaku berbangsa yang satu, bangsa Indonesia 3. Kami putra dan putri Indonesia, menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia.”
(Foto ist) Pahmuddin Cholid, Wasekjen PB HMI


Saat ini aku mendengar lagu yang beri judul ”Kerajaan Maling” yang dinyanyikan kawanku bernama Gonzales, kala itu saya mengikuti pertemua Mahasiswa di daerah Sleman Yogjakarta 2010 silam, lagu yang mereka nyanyikan memetuk-matuk kasadaran peserta Bedah buku dan juga saya saat aku memutarnya melalui youtube. Bedah buku yang digelar di kantor MPM menghidupkan semangat bahwa tipuan para maling yang terkadang selalu berada disekeliling kita setiap saat.


Saat sekarang ini, pemuda bangsa ini dituntut dengan kesadaran kritisnya untuk sadar bersama akan ancaman dirinya dan generasi penerusnya, dimana ancaman itu sudah dihadapan matanya, dimulai dari kesehariannya yang berangkat dari budaya leluhurnya sangat menghargai orang yang lebih tua darinya hampir hilang ditengah kehidupan keluarga, kedua dengan beranjak ke lingkungan keduanya yaitu sekolah dan kampus mengalami turbulensi yang nyata, dimana kampus tidak mengajarinya dengan kritis dengan membangun budaya kritis tetapi mereka dikekang dengan budaya kekuasaan yang cenderung ototoriter, anak didiknya setiap saat dihantui oleh angka-angka, dengan kesibukan kuliahnya mereka diformat untuk tidak saling mengakrapkan diri kepada saudara sekampusnya sendiri bahkan disebelah ruangan kelas belajarnya dibatasi oleh dosennya sendiri. Dengan dibuatnya pelarangan pada mahasiswa baru untuk mengikuti proses berlembaga sejak dini, mereka dibolehkan untuk mengikuti organisasi ekstra kampus diusia semesternya yang akhir.


Dengan kesadaran kritis pemuda saat ini sejatinya menyusun agenda kebangsaan yang bersifat jangka panjang dengan kesadaran bersama mengembalikan semangat sumpah pemuda dengan mendorong pememerintah daerah. Pertama mengembalikan segala aset daerah yang hari ini dikelola dan dieksploitasi oleh pengusaha yang notabenenya mereka mengawal investasi asing. Kedua pemerintah daerah tidak lagi menggampangkan pemberian izin kepada para investor asing yang sudah jelas telah melakukan kerusakan lingkungan dimana-mana. Ketiga pemerintah daerah wajib mengawal putra putri daerahnya untuk sadar akan SDM yang unggul disegala bidang. Dengan kesadaran massif yang terlahir dari Sabang sampai Merauke, maka pemerintah pusat tidak semena-mena mendikte pemerintah daerah, pemerintah daerah harus berani memperjuangkan potensi daerahnya masing-masing. Dengan demikian barulah Putra dan Putri Indonesia merasakan bertanah air satu, berbangsa satu dan berbahasa satu, yaitu bahasa Indonesia.

Penulis : Pahmuddin Cholik, Wakil Sekjen PB HMI

Editor : Arham Licin



.

Post a Comment

Suara Pembaharu

{picture#https://lh3.googleusercontent.com/-KxCpQnd7tqI/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAAJk/t239p-tSaZY/s120-c/photo.jpg} Media Online, Suara Pembaharu. Menyajikan Informasi Aktual & Terpercaya. {facebook#http://facebook.com} {twitter#http://twitter.com} {google#http://google.com} {youtube#http://youtube.com} {instagram#http://instagram.com}
Powered by Blogger.