Suara Pembaharu ideas 2017

Bitung, Suarapembaharu.com - Puluhan tahun kota ini menjadi corong pertumbuhan ekonomi dari sektor perikanan, membuat sektor lainnya seperti "terlupakan", termasuk sektor pertanian.

Sebagai Koordinator Gerakan Pemuda Tani Indonesia (Gempita) kota Bitung, saya harus bekerja ekstra keras untuk meyakinkan semua orang yang ada di kota yang dikenal sebagai salah satu kota industri perikanan terbesar Indonesia ini apa dan untuk apa Gempita ini hadir.


Tantangan yang dihadapi Gempita kota Bitung tentunya sangat beragam dan semua sudah saya paparkan didepan peserta bimbingan tehnis yang diselenggarakan oleh Kementerian Pertanian di kota Bekasi beberapa bulan silam. Salah satunya yang menjadi kendala adalah, mindset pemuda yang memandang bahwa bertani ini kotor, berlumpur, tidak gaul dan tentunya identik dengan miskin. Padahal, salah satu tugas Gempita adalah regenerasi petani. Dimana selama ini petani didominasi oleh kaum tua yang tentunya sudah sangat memiliki keterbatasan dibanyak hal dibanding kaum muda yang punya banyak energi dan inovasi dalam mengembangkan pertanian bukan hanya sekedar sebagai sektor pelengkap di kota Bitung khususnya, tetapi menjadi salah satu sektor andalan pemkot untuk mensejahterakan masyarakat.

Sebagai orang yang diberi tanggungjawab untuk kembali menggerakkan sektor pertanian di kota perikanan ini,  saya harus tetap komitmen bahwa semua pasti punya solusi jika kita mau bekerja sedikit lebih keras dan bergandeng tangan. Kami kemudian mulai mengumpulkan data data terkait pertanian dengan berkoordinasi dengan dinas Pertanian dan Tanaman Pangan kota Bitung. Satu persatu data kami pelajari untuk kemudian mengambil langkah bagaimana sektor pertanian di kota ini bisa lebih baik dan pada akhirnya memberikan dampak kesejahteraan bagi para petani.

Saat ini, kami sudah sampai pada titik pengumpulan calon petani dan calon lahan (CPCL) yang nantinya akan menjadi dasar akan turunnya bantuan benih serta pupuk dari pemerintah untuk kelompok tani. Gempita kota Bitung pun fokus pada salah satu program yang dicanangkan pemerintah pusat untuk bisa swasembada jagung, kedelai dan beras pada 2018. Kami memilih komoditas jagung, kenapa jagung tentunya menjadi pertanyaan. Karena, setelah kami pelajari selain adanya "paksaan" kepada Bulog untuk membeli dengan harga terendah (HET) Rp.3150 perkilogram, jagung juga bisa lebih mudah ditanam dan jangka waktu panennya pun relatif cepat serta kondisi tanah di kota Bitung yang cocok dengan komoditas ini.

Walaupun sampai saat ini Gempita kota Bitung belum melakukan komunikasi dengan Wali Kota Bitung bapak Maxmilian J Lomban, dan baru berkomunikasi dengan bapak Wakil Wali Kota Bitung bapak Maurits Mantiri yang sangat welcome dengan gerakan ini. Tapi saya yakin, orang nomor satu di kota Cakalang ini sudah mendengar nama Gempita di kota ini. Dan saya berharap bapak Wali Kota Bitung bisa menerima keberadaan gerakan ini sebagai perwujudan salah satu Nawacita Presiden Joko Widodo serta bisa memberikan arahan dan petunjuk kepada Gempita bagaimana perjalanan gerakan ini kedepan dalam rangka sinkronisasi program pemkot dalam bidang pertanian

Penulis : Arham Licin
                Korda Gempita kota Bitung
Editor : Sahrul Setiawan

Post a Comment

Suara Pembaharu

{picture#https://lh3.googleusercontent.com/-KxCpQnd7tqI/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAAJk/t239p-tSaZY/s120-c/photo.jpg} Media Online, Suara Pembaharu. Menyajikan Informasi Aktual & Terpercaya. {facebook#http://facebook.com} {twitter#http://twitter.com} {google#http://google.com} {youtube#http://youtube.com} {instagram#http://instagram.com}
Powered by Blogger.