Suara Pembaharu ideas 2017

Bolmong Timur, Suarapembaharu.com - Bantuan Langsung Tunai (BLT) untuk siswa siswi kurang mampu yang menjadi salah satu program nasional yang cetuskan Joko Widodo setelah menjadi Presiden sepertinya tidak berjalan maksimal disejumlah daerah.

Salah satunya di kabupaten Bolaang Mongondow Timur (Boltim), salah satu sekolah menengah pertama (SMP) di Kotabunan diduga melakukan pemotongan terhadap BLT yang diterima siswa. Dan yang lebih parah lagi, jumlah nominal potongan yang diduga dilakukan oknum di sekolah tersebut sebesar Rp.100.000 persiswa.


Seperti penuturan Titin Potabuga (38) warga Kotabunan salah seorang orang tua murid, yang mengeluhkan bantuan Langsung tunai (BLT) dari Pemerintah Pusat dipotong Rp100.000 oleh pihak Sekolah.


"Yah memang anak saya salah satu penerima BLT di SMP Negeri Kotabunan. Tiap tahun menerima Rp750.000. Bantuan ini dikhususkan untuk warga miskin, tapi sekolah memotong 100 ribu jadi anak saya cuma menerima 650 ribu,"  ujar Titin Potabuga, Sabtu(19-11-2017).


Titin menambahkan,  sebelum pelaksanaan pencairan, Orang tua murid diundang rapat oleh Pihak Kepala Sekolah dan guru untuk membicarakan masalah bantuan BLT yang akan diminta untuk pembelian stik drum Band.


Hasil rapat memutuskan orang tua murid wajib memberikan uang sebesar Rp100.000 untuk pembelian stik Drumb Band. Padahal uang tersebut tidak cukup untuk membeli perlengkapan siswa seperti tas,sepatu dan pakaian serta kebutuhan siswa lainnya yang diatur di juknis.


Sebanyak 53 siswa yang menerima BLT di SMP Negeri Kotabunan dan persoalan tersebut menurut Titin sudah dilaporkan kepada pihak Dinas Pendidikan dalam hal ini Cabang Dinas Pendidikan Kotabunan.



Kepala Cabang Dinas Pendidikan Kotabunan, Idrus Paputungan yang dikonfirmasi membenarkan adanya pungutan itu. Dan pengakuan orang tua siswa nominalnya 100 ribu perorang.


"Mereka mengaku, satu siswa penerima Beasiswa khusus orang kurang mampu, Harus menyetor Rp100.000 untuk Pembelian stik drumb band," ujar Idrus


Pihaknya pun langsung bergerak untuk melakukan klarifikasi kepihak sekolah dan memanggil salah satu guru yang dimaksud untuk dimintai keterangan.


"Dari hasil BAP yang dilakukan, guru tersebut mengakui adanya pungutan itu, katanya permintaan uang oleh sekolah untuk membayar Pelatih drum band. Maka keterangan tersebut langsung dilaporkan ke Kepala Dinas untuk ditindak lanjuti," ujarnya.
(foto GUN) SMP Negeri Kotabunan


Tambah Idrus,  harusnya kegiatan di sekolah  menggunakan dana BOS dan jangan membebani orang tua siswa.


Sementara itu Kepala Sekolah SMP Negeri Kotabunan Lutfi Bazmul mengatakan, pengumpulan dana berdasarkan atas kesepakatan orang tua siswa sebesar Rp100.000.


"Uang tersebut sudah terkumpul dan akan dibelikan stik drum band. Jika memang ada orang tua tidak setuju, maka saya akan pulangkan uangnya. Sedangkan untuk dan BOS sudah ada 13 Item kegiatan yang dimasukkan. Jadi dana pembelian stik tak termasuk," ungkapnya.

Reporter : Gunawan Mamonto
Esitor : Arham Licin


Post a Comment

Suara Pembaharu

{picture#https://lh3.googleusercontent.com/-KxCpQnd7tqI/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAAJk/t239p-tSaZY/s120-c/photo.jpg} Media Online, Suara Pembaharu. Menyajikan Informasi Aktual & Terpercaya. {facebook#http://facebook.com} {twitter#http://twitter.com} {google#http://google.com} {youtube#http://youtube.com} {instagram#http://instagram.com}
Powered by Blogger.