Suara Pembaharu ideas 2018

Depok, Suarapembaharu.com - Pemuda Papua yang belajar ke berbagai universitas merupakan harapan membangun Papua ke depan yang lebih maju. Investasi pendidikan menjadi kebutuhan utama untuk dapat mengejar ketertinggalan Papua dengan provinsi-provinsi lain di Indonesia. Pemerintah memberikan perhatian sangat besar terhadap Papua.

Dituturkan oleh R. Alpha Amirrachman, Ph.D yang merupakan Staf Khusus Mendikbud Bidang Monitoring Implementasi Kebijakan. Dimana kebijakan pemerintah Jokowi yang menekankan pembangunan yang "Indonesia Centris” dan bukan lagi “Jawa Centris” merupakan kesempatan untuk memacu pembangunan di wilayah timur Indonesia, khususnya Papua.

Pernyataan ini terungkap dalam diskusi dengan tema “Pengembangan Minat dan Bakat Mahasiswa Papua di Universitas Indonesia” yang dihadiri mahasiswa-mahasiswa UI, khususnya dari Papua. Diskusi tersebut diadakan oleh PMII UI kerjasama dengan Prodi Manajemen UI Depok, bertempat di ruang Seminar 1, Gedung Departemen Manajemen FEB UI, Jumat (22-12-2017).

" lingkungan tempat belajar sangat mempengaruhi movitasi dalam belajar," jelas Alpha.

Memang diakui mahasiswa Papua yang kuliah di UI sekarang ini sangat minim proporsinya dibandingkan dengan mahasiswa daerah daerah lain, mungkin tidak lebih dari 70 orang, itupun dari S1 hingga S3.
Hal ini disampaikan Athor Subroto, Ph.D, Kepala Prodi Departemen Manajemen FEB UI tatkala membuka diskusi tersebut.

Diskusi yang dipandu langsung oleh Ahmad Luthfi, Ketum PMII UI tersebut juga menghadirkan peneliti dari Abdurrahman Wahid Center UI, Mauritz Pangkerogo. Dalam pandangan Mauritz bahwa Perguruan Tinggi adalah wadah perjumpaan yang sangat baik. Melalui pendidikan perguruan tinggi seperti UI yang mahasiswanya dari Sabang hingga Merauke akan membawa pengalaman pendewasaan yang sangat baik untuk membangun kultur yang inklusif.

" Hal ini sangat penting mengingat Indonesia beragam suku dan juga agama yang membutuhkan saling pengenalan satu sama lainnya untuk mempererat rasa persatuan," jelasnya.

Namun demikian, diakui oleh salah satu peserta, Kristi, Ketua IMAPA (Ikatan Mahasiswa/I Papua Universitas Indonesia bahwa teman-teman mahasiswa dari Papua biasanya minder dan merasa tidak dapat mengikuti pergaulan dengan teman-teman dari mahasiswa daerah lain, khususnya yang dari Jakarta. Mahasiswi calon dokter gigi asal Biak Numfor tersebut menceritakan pengalamannya bahwa untuk dapat lolos seleksi beasiswa afirmasi sangat sulit dan oleh karena keterbatasan informasi dan juga akses geografis, maka rata-rata yang memperoleh beasiswa hanya yang bermukim di perkotaan saja, dibandingkan dengan teman-temannya yang tinggal di pegunungan ditambah dengan kurang tranparansinya proses seleksi yang dilakukan Pemda.

 “peningkatan pemerataan mungkin yang perlu menjadi perhatian pemerintah pusat sekarang ini,” harapnya.

Editor : Arham Licin

Post a Comment

Suara Pembaharu

{picture#https://lh3.googleusercontent.com/-KxCpQnd7tqI/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAAJk/t239p-tSaZY/s120-c/photo.jpg} Media Online, Suara Pembaharu. Menyajikan Informasi Aktual & Terpercaya. {facebook#http://facebook.com} {twitter#http://twitter.com} {google#http://google.com} {youtube#http://youtube.com} {instagram#http://instagram.com}
Powered by Blogger.