Suara Pembaharu ideas 2018

Bitung, Suarapembaharu.com - Setiap tahun, tepatnya tanggal 9 Februari insan pers di Indonesia biasanya berkumpul disatu tempat yang sudah ditetapkan sebagai lokasi Hari Pers Nasional (HPN) dan dipastikan Presiden Republik Indonesia akan hadir disana. Sama seperti tahun 2018 ini, dimana pelaksanaan HPN 2018 dipusatkan di kota Padang, Sumatera Barat.

Tanggal 9 Februari sebenarnya masih "dipertentangkan" dikalangan insan pers sendiri terkait penetapannya sebagai Hari Pers Nasional. Banyak diantara wartawan yang bahkan "menolak" 9 Februari tersebut sebagai hari lahirnya pers nasional di Indonesia. Tentu alasan mereka, karena 9 Februari itu sebenarnya adalah hari di mana Persatuan Wartawan Indonesia di lahirkan. Akan tetapi, jauh sebelum itu pers sudah ada di negeri ini. Bahkan dimasa perjuangan kemerdekaan, kontribusi pers sangat lah besar dalam rangka ikut serta didalam perjuangan bangsa ini terbebas dari penjajahan.
(ist) Abineno, Wartawan Beritamanado.com

Salah satu wartawan yang menolak penetapan 9 Februari sebagai Hari Pers Nasional adalah Abineno. Wartawan media online Beritamanado.com ini tegas mengatakan bahwa pers sudah ada jauh sebelum 9 Februari 1946 di Surakarta.

" Bagi saya, tanggal 9 februari bukan hari pers karena jauh sebelum itu bahkan sebelum negeri ini mengecap kemerdekaan pers sudah ada. Tanggal 9 februari adalah hari lahirnya PWI organisasi pers yang disahkan orde baru yang juga dianggap hari pers oleh orde baru. Sampai kapan kekeliruan ini," ujarnya, Jumat (9-2-2018).


Memang, sejarah perkembangan Pers di Indonesia sebelum kemerdekaan Indonesia mulai terlihat pada masa pergerakan nasional, yaitu sejak bulan Mei 1908 atau sejak lahirnya pergerakan Budi Utomo. Pers pada masa ini merupakan sarana komunikasi yang utama yang diperlukan untuk meningkatkan persatuan, kesadaran nasionalisme dan kebangkitan bangsa Indonesia.

Pada masa sebelum kemerdekaan, pers merupakan bagian yang penting dalam pergerakan nasional, walaupun pada saat itu kegiatan praktis semakin terlihat yang dilakukan oleh organisasi-organisasi di Indonesia. Bahkan perkembangan pergerakan nasional menuntut lebih banyak sarana penerangan dan perkembangan persatuan wartawan. Perjuangan memerdekaan Indonesia juga dilakukan oleh kalangan wartawan dan pers, terbukti dengan pada waktu itu munculnya berbagai majalah dan surat kabar seperti Benih Merdeka, SoeraRakyat Merdeka, Fikiran Ra'jat, Daulat Ra'jat Soera Oemoem dan lain sebagainya, serta Organisasi Persatoen Djoernalis Indonesia (Perdi).

Ketika pendudukan militer jepang, pers di Indonesia ditutup. Jepang takut dengan adanya pers maka rakyat Indonesia bisa bersatu dan mengusir jepang dari Indonesia. Jepang kemudian menerbitkan surat kabar dan majalah di beberapa kota-kota besar di Indonesia dengan kewajiban menyajikan propaganda untuk kepentingan Jepang.

Akan tetapi para para wartawan asal Indonesia yang bekerja di penerbitan-penerbitan yang dikuasai secara ketat oleh jepang tetap melibatkan diri dalam pergerakan untuk mencapai kemerdekaan Indonesia.

Bahkan sebagian tokoh pers Indonesia aktif dalam persiapan proklamasi kemerdekaan bersama para pemimpin organisasi politik nasional. Setelah Soekarno dan Hatta memproklamasikan kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945, wartawan sangat dibutuhkan untuk menyebarluaskan pernyataan kemerdekaan Indonesia sehingga seluruh rakyat Indonesia dan bangsa-bangsa lain dapat mengetahui bahwa negara kita sudah merdeka. Jadi para wartawan berperan untuk menyebarluaskan berita Indonesia merdeka, dan mempertahankan kemerdekaan dan mencegah kembalinya penjajahan Belanda di Indonesia.

Reporter : Yaser Baginda
Editor : Arham Licin



Post a Comment

Suara Pembaharu

{picture#https://lh3.googleusercontent.com/-KxCpQnd7tqI/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAAJk/t239p-tSaZY/s120-c/photo.jpg} Media Online, Suara Pembaharu. Menyajikan Informasi Aktual & Terpercaya. {facebook#http://facebook.com} {twitter#http://twitter.com} {google#http://google.com} {youtube#http://youtube.com} {instagram#http://instagram.com}
Powered by Blogger.