Suara Pembaharu ideas 2018

Bitung, Suarapembaharu.com - Sejak Tahun 2015 sampai dengan 2017 pengguna ehabond  mencapai 2200 orang dan 157 diantaranya sudah direhab di Badan Narkotika Kota Bitung, dengan rincian. Tahun 2015 pengguna ehabond 1200 orang dan yang dirawat atau rehab oleh BNK kota Bitung sebanyak 62 orang, tahun 2016 sebanyak 700 orang pengguna dan yang direhabilitasi 55 orang, tahun 2017 ada 400 orang yang diestimasi menggunakan ehabond dan sebanyak 40 orang dirawat.

Walaupun ada menurun angka, menurut Dr.Tommy Sumampouw kepala BNK Kota Bitung, tetap saja penggunaan ehabond masih

termasuk tinggi. Dan ini akan berdampak pada rusaknya generasi muda kota Bitung. Karena, hampir 95 persen pemakai ehabond adalah anak usia sekolah. Bahkan, terakhir ditemukan anak anak sekolah dasar pun sudah menggunakan ehabonf dan bahkan obat keras lain seperti komix, tri X dan autan.

" Efek ehabond merusak jaringan otak dan membuat anak sulit berpikir jernih dan gampang frustrasi sehingga emosi mereka tidak stabil dan cenderung bertindak destruktif," jelas Sumampouw, Rabu (14-2-2018).

Sumampouw juga menghimbau, agar orang tua dan guru guru disekolah lebih memberikan perhatian lebih terhadap anak. Karena menurutnya, korban ehabond dan obat keras ini adalah pintu masuk mereka menggunakan narkoba.

"Orang tua harus lebih intensif memantau anak anak, begitu pun guru bisa lebih peka melihat perkembangan siswa mereka, apakah ada perubahan tingkah laku yang merupakan efek dari ehabond dan obat keras yang mereka konsumsi, karena rata rata mereka menggunakannya saat pulang sekolah," himbaunya.

Kepala SDN Inpres 7/83 Girian Weru satu kota Bitung Antje Lele saat ditanyakan terkait maraknya anak sekolah dasar yang menggunakan ehabond dan obat keras lainnya, mengatakan bahwa pihaknya sangat terkejut dan akan berusaha mencegah hal itu terjadi pada siswanya.

" Kami tentunya akan berusaha melakukan pencegahan agar hal itu tidak terjadi disekolah kami. Pedekatan bagaikan orang tua sendiri kepada siswa juga saya pikir bisa mengurangi prilaku negatif anak, mereka akan merasa terayomi termasuk memperbanyak kegiatan ekstra kurikuler agar mereka lebih terfokus melakukan hal hal yang positif," jelasnya saat ditemui awak media ini.

Namun, Lele juga berharap sinergitas dengan orang tua sangat dibutuhkan. Karena anak anak punya waktu lebih banyak dibawa pengawasan orang tua.

" Mari sama sama kita hindarkan anak anak kita dari bahaya ehabond dan obat keras ini. Tentunya demi masa depan mereka," pungkas kepala sekolah yang menjadikan sekolah yang dipimpinnya menjadi tempat yang nyaman untuk menimbah ilmu ini.

Reporter : Yaser Baginda
Editor : Arham Licin


Post a Comment

Suara Pembaharu

{picture#https://lh3.googleusercontent.com/-KxCpQnd7tqI/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAAJk/t239p-tSaZY/s120-c/photo.jpg} Media Online, Suara Pembaharu. Menyajikan Informasi Aktual & Terpercaya. {facebook#http://facebook.com} {twitter#http://twitter.com} {google#http://google.com} {youtube#http://youtube.com} {instagram#http://instagram.com}
Powered by Blogger.