Suara Pembaharu ideas 2018

Bitung, Suarapembaharu.com - Aksi serangan teror bom bunuh diri yang dilakukan Puji, wanita memakai hijab di geraja Surabaya menimbulkan fobia terhadap muslimah berhijab dan bercadar. Untuk menghilangkan fobia, Gabungan Komunitas Ihwan Ahwat se-Kota Bitung menggelar aksi 'Peluk Kami' di kompleks pusat Kota Bitung Kelurahan, Bitung Timur, Kecamatan Maesa, Sabtu (26/05/2017).



Mereka membawah kertas bertuliskan, "Peluk Kami Jika Anda Merasa Aman Dengan Kami" "Duka Surabaya Duka Kita,  Duka kita semua".

Ahlan Huntolingo sebagai kordinator aksi yang bertajuk 'Ada Apa Dengan Cadar' mengatakan kasi yang dilakukan ini untuk eksperimen sosial untuk menghilangkan islamofobia. Masyarakat diajak untuk tidak takut dengan wanita berhijab syar'i bahkan yang mengenakan niqab atau cadar serta ptia bercelana cingkrang.



"Social experiment ini salah satunya dengan tujuan menyatakan dan memberikan rasa aman bahwa teman-teman yang berniqab, bercadar, pakai celana cingkrang, mereka nggak bisa dikaitkan dengan yang sedang terjadi, nggak bisa kita generalisasi bahwa orang yang bercadar adalah orang yang 'bermasalah'," kata Ahlan di Lokasi.

Eksperimen ini juga dilakukan untuk menghilangkan stigma negatif terhadap perempuan bercadar, misalnya dikaitkan dengan kelompok radikal. Masyarakat diminta menghormati perempuan yang bercadar karena keputusannya menjalankan salah satu syariat islam.

"Kita nggak bisa generalisir kalau orang pakai cadar itu negatif, nggak. Karena ini yang bisa mereka yakini, ini bagian dari syariat," katanya.

Dia pun meminta masyarakat tidak melakukan penghakiman terhadap seseorang hanya karena penampilannya atau hijabnya atau cadarnya. Eksperimen ini juga dibuat untuk mengedukasi masyarakat dalam menilai sebuah perbedaan, agar tidak mengucilkan perempuan bercadar.

"Mereka hanya menggunakan alat yang biasa anda pakai, jilbab, cadar, 'dengan cara yang salah'. Makanya ini kita bilang 'peluk kami ketika anda merasa aman'. Percaya aja, kami nggak ada masalah kok. Ini yang coba kita edukasi ke masyarakat supaya mereka bisa bersikap bijak melihat setiap permasalahan yang ada," papar Ahlan.

Beberapa perempuan yang melihat aksi ini langsung memeluk para hijabers, begitu juga dengan laki-laki memeluk peserta aksi laki-laki. Bahkan ada yang menangis ketika memeluk peserta aksi.

Ahlan menambahkan dirinya juga menyayangkan aksi teror yang terjadi di beberapa daerah di Surabaya dan Riau. Menurutnya itu tidak hanya mencoreng agama Islam hingga stigma negatif terhadap wanita berhijab.

"Stigma-stigma negatif itu muncul bukan hanya di Surabaya, tapi juga di seluruh Indonesia. Apalagi buat temen-temen yang bercadar, berhijab panjang apalagi masuk bulan Ramadan dan itu nggak bagus banget, ramadan ini kan kita pengen ibadah tenang, malah dihantam dgn kejadian seperti ini," tuturnya.

Komunitasnya, kata Ahlan, mengutuk keras teror bom tersebut. Dia menegaskan Islam tidak pernah membenarkan aksi teror.

"Agama Islam itu cinta damai, agama rahmatan lil alamin. Bisa masuk ke semua lini kehidupan. Masuk ke lini kehidupan dengan kekerasan itu nggak akan pernah terjadi. Apalagi kita diajarkan untuk berbuat baik terhadap sesama bukan hanya kepada manusia, sama hewan aja kita harus berbuat baik," ujarnya. (Yb)

Post a Comment

Suara Pembaharu

{picture#https://lh3.googleusercontent.com/-KxCpQnd7tqI/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAAJk/t239p-tSaZY/s120-c/photo.jpg} Media Online, Suara Pembaharu. Menyajikan Informasi Aktual & Terpercaya. {facebook#http://facebook.com} {twitter#http://twitter.com} {google#http://google.com} {youtube#http://youtube.com} {instagram#http://instagram.com}
Powered by Blogger.