Suara Pembaharu ideas 2018

Makassar, Suarapembaharu.com - Jhon Pariama Pabuntang selaku mahasiswa jurusan Arsitektur Universitas Bosowa angkat bicara terkait wacana pembongkaran gedung Gereja Toraja Jemaat Rantepao (29/05/2018). Mengenai pembongkaran Gedung Gereja Toraja Jemaat Rantepao dengan tujuan untuk membangun gedung yang baru yang lebih luas, dinilainya kurang memperhatikan aspek sejarah.



Dimana gereja tersebut merupakan salah satu bukti akan pengabaran Injil di Toraja yang dilakukan oleh Antonie Aris van De Loosdrecht salah satu relawan Zending (lembaga misionaris dari Belanda) pada tahun 1913.

“Pembongkaran bangunan gereja tersebut akan mengurangi jumlah bangunan heritage yang ada di Toraja, perlu kita ketahui bersama bahwa beberapa bangunan heritage di Toraja saat ini telah dimoderrnisasi dengan berbagai tujuan. Salah satunya gedung Rumah Sakit Elim Rantepao. Jika saja pembongkaran ini tetap dilakukan maka menurut saya ini merupakan salah satu langkah untuk mengahapus jejak masuknya Injil di Toraja”, Ujar jhon yang merupakan Wakil Presiden Pemerintahan Mahasiswa Fakultas Teknik Universitas Bosowa kepada awak media.

Sebagai mahasiswa arsitektur, yang juga pernah menjabat sebagai Sekretaris Umum Forum Komunikasi Mahasiswa Arsitektur Sulawesi Selatan, ia menuturkan bahwa mempertahankan bangunan heritage sama halnya dengan mempertahankan jati diri atau identitas suatu daerah bahkan suatu bangsa.

“Masalah mempertahankan bangunan bersejarah atau bangunan heritage bukan hanya sekedar masalah tatanan fisik kota. Bukan juga sekedar mempertimbangkan penggunaan lahan secara ekonomis. Tetapi mempertahankan bangunan bersejarah dapat disamakan dengan mempertahankan identitas atau jati diri suatu daerah bahkan suatu Negara, Tetapi harus melihat secara kolektif dan universal bahwa Bangunan Gereja tersebut sudah merupakan salah satu identitas masyarakat Toraja secara umum dan anggota Gereja Toraja secara khusus.” Tegasnya.

Jhon juga mengungkapkan hadirnya bangunan yang berarsitektur Kolonial di Toraja sama halnya dengan kehadiran Arsitektur Tradisional Toraja, sama-sama mampu menjadi sector perekonomian dan pariwisata yang menguntungkan bilah dikelolah dengan baik. Bila merujuk kepada UU no. 11 tahun 2010, bangunan ini sebenarnya sudah memenuhi kriteria sebagai Cagar Budaya.

“Tentu saya sangat berharap agar Pemkab Toraja Utara menyikapi persoalan ini secara serius, juga kepada seluruh elemen masyarakat Toraja supaya mendoakan Majelis Gereja Toraja Jemaat Rantepao agar mengurungkan niatnya untuk membongkar Gedung Gereja tersebut. Pemenuhan kebutuhan akan kapasitas ruangan untuk memaksimalkan pelayanan kepada jemaat masih dapat ditempuh dengan berbagai langkah lainnya.”

Jhon juga menambahkan biarkan bangunan ini menjadi saksi dan pencerita. Biarkan bangunan ini nantinya menjadi spirit bagi generasi muda Toraja untuk menggali dan mengingat kembali tentang proses pengabaran Injil di Toraja.

"Memang benar bahwa pada hakikatnya dirobohkan atau tidaknya bangunan tersebut, sama sekali tidak akan mengubah esensi kita untuk beribadah kepada Tuhan, namun suatu hal yang perlu kita ketahui bersama bahwa bangunan ini merupakan salah satu saksi titik perubahan masyarakat Toraja, perubahan dari yang sebelumnya tidak mengenal Kristus menjadi mengenal Kristus, perubahan dari memeluk agama Animisme menjadi pemeluk agama Kristen," pungkasnya. (AR)

Post a Comment

Suara Pembaharu

{picture#https://lh3.googleusercontent.com/-KxCpQnd7tqI/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAAJk/t239p-tSaZY/s120-c/photo.jpg} Media Online, Suara Pembaharu. Menyajikan Informasi Aktual & Terpercaya. {facebook#http://facebook.com} {twitter#http://twitter.com} {google#http://google.com} {youtube#http://youtube.com} {instagram#http://instagram.com}
Powered by Blogger.