Suara Pembaharu ideas 2018

Pasaman, suarapembaharu.com - Semangat memperingati HUT RI ke-73 tahun masih tertanam dalam hati sebagian besar masyarakat, terutama bagi para pejabat pemerintah, pelajar , pendidik dan lainnya. Namun lain halnya dengan para Petani, masih banyak mereka tidak merasa dapat menikmati arti kemerdekaan itu, terutama dikalangan Petani kebun Karet di Kabupaten Pasaman, Provinsi Sumatera Barat.



Petani Karet di Kabupaten Pasaman, hingga saat ini masih saja menjerit dengan lemahnya kondisi prekonomian. Pasalnya, makin hari, harga karet bertambah merosot sehingga kesehariannya selalu mengeluh karena kekurangan biaya hidup.

Wali Nagari Padang Mentinggi, Kecamatan Rao, Syamsu Tabri saat mengikuti musrembang Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) Kabupaten Pasaman Provinsi Sumatera Barat tahun 2018, pada 19 Mei kemarin, meminta kepada Pemerintah Daerah (Pemda) agar memberikan perhatian khusus terhadap rendahnya harga karet, sebab warganya banyak bermata pencaharian menyadap pohon karet.

Kemudian, Arman salah satu warga Nagari Cubadak, Kecamatan Dua Koto, mengatakan menyadap Karet menjadi andalan untuk menyambung hidup keluarganya.

Sejumlah kecamatan di Kabupaten Pasaman yang 40% penduduknya bermata pencaharian menyadap pohon karet yaitu, Kecamatan Rao, Rao Utara, Mapatunggul, Mapattunggul Selatan, Rao Selatan, Padang Gelugur dan Dua Koto.

Harga Karet rata - rata di Pasaman saat ini, hanya sekitar Rp4.000 - Rp5.000 per 1 Kg, sementara rata - rata penghasilan masyarakat hanya 3 Kg perhari. Bukan untuk kepentingan pendidikan sekolah anaknya, kebutuhan rumah tangga saja tidak mencukupi. Pantas masyarkat di Pasaman selalu mengeluh, tidak seperti 5 tahun yang lalu harga Karet mencapai Rp10.000 per 1 Kg.

Dalam hal ini, seharusnya Pemerintah Provinsi Sumatera Barat, khususnya Pemerintah Kabupaten Pasaman, dapat mengambil langkah untuk mengatasi permasalahan ini. Sebab kesejahhteraan tidak akan terwujud jika hanya dengan pembangunan infrastruktur, sementara nilai mata pencaharian merosot.

Rendahnya harga Karet juga berdampak pada banyak usaha seperti perusahaan leasing kendaraan, toko dan usaha lainnya. Kenapa tidak, turunnya harga karet saat ini telah memberikan dampak yang mengakibatkan turunnya pendapatan petani per bulan, sehingga  daya beli petani jauh menurun.

Dalam hal ini, masyarakat menggantungkan diri kepada pemerintah, dengan besar harapan mencarikan solusi untuk mengatasi permasalahan  prekonomian petani kebun Karet.

(Darlinsah)

Post a Comment

Suara Pembaharu

{picture#https://lh3.googleusercontent.com/-KxCpQnd7tqI/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAAJk/t239p-tSaZY/s120-c/photo.jpg} Media Online, Suara Pembaharu. Menyajikan Informasi Aktual & Terpercaya. {facebook#http://facebook.com} {twitter#http://twitter.com} {google#http://google.com} {youtube#http://youtube.com} {instagram#http://instagram.com}
Powered by Blogger.