Suara Pembaharu ideas 2018

Suarapembaharu.com - Jika kita membahas mengenai Pemilihan Presiden tahun 2019 yang akan datang, banyak sekali perspektif yang dapat kita sampaikan dan diskusikan. Pilpres tahun depan menjadi menarik karena banyak sekali dinamika yang terjadi menjelang proses tersebut, menjadi lebih menarik karena didalamnya disisipkan branding-branding politik oleh rezim yang hari ini berkuasa dan pihak oposisi.


Pada tulisan ini penulis akan menarasikan mengapa narasi politik akan menjadi kunci kemenangan bagi para pasangan calon yang berlaga tahun depan.

Narasi Keagamaan Petahana

Selama 4 tahun kepemimpinan Jokowi-JK isu keagamaan menjadi salah satu masalah yang cukup penting bagi pemerintah, pada masa Jokowi-JK banyak tuduhan yang menyatakan bahwa pemerintah saat ini adalah pemerintah yang jauh terhadap ulama dan nilai-nilai islam hal ini ditandai dengan pembubaran ormas HTI dan kriminalisasi terhadap ulama-ulama tertentu.

Isu keagamaan ini juga menjadi gorengan empuk bagi pihak oposisi untuk menyerang pemerintah, tidak heran jika kemudian hasil survey dari LSI menyatakan bahwa sebaiknya calon wakil presiden Jokowi berasal dari kalangan ulama dan faham akan persoalan keummatan.

Walaupun mengejutkan, penunjukan Rais Aam PBNU KH Maruf Amin menjadi cawapres Jokowi sebenarnya sudah dapat diprediksi sejak lama, petahana pasti akan memilih pendamping yang dianggap mampu untuk menetralkan isu yang selama ini menyersang pemerintah.

KH Maruf Amin merupakan ulama sepuh dan dihormati di Indonesia, selain sebagai Rais Aam PBNU, KH Maruf Amin juga merupakan ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI), berasal dari ormas islam terbesar yakni Nahdalatul Ulama pastinya beliau akan mampu memberikan suntikan elektoral dan politik identitas yang sangat kuat bagi Jokowi.

Narasi politik yang dibangun oleh pasangan petahana pastinya mengenai narasi keagamaan dan keummatan, KH Maruf Amin dianggap sebagai representasi dari umat islam moderat yang dianggap mampu untuk menyatukan masyarakat yang hari ini terjebak dalam polarisasi pandangan politik yang sangat kuat selain itu beliau juga mempunyai pengalaman panjang dibidang ekonomi syariah dan ekonomi keummatan.

Penulis menganggap bahwa penunjukkan KH Maruf Amin sebagai Cawapres Jokowi merupakan counter attack sempurna kepada pihak oposisi, dengan keadaan ini Gerindra Cs harus menemukan alasan dan narasi politik yang lebih rasional dan meyakinkan sehingga  dapat diterima oleh masyarakat dari pada isu keagamaan dan tagar 2019 ganti presiden.

Narasi  Ekonomi dan Partai Emak-Emak Oposisi

Setelah calon petahana memilh ulama menjadi cawapresnya, Prabowo Subianto secara mengejutkan mendeklarasikan Sandiaga Uno sebagai Cawapresnya. Penunjukan Sandiaga yang saat itu masih menjadi wakil gubernur aktif DKI Jakarta boleh dibilang adalah kejutan besar dari pihak oposisi, selama ini seperti yang kita ketahui Gerindra selalu bersama-sama berkoalisi dengan PKS dan PKS pun telah menyodorkan 9 nama kader terbaiknya untuk mendampingi Prabowo namun kenyataannya tidak satupun dari nama tersebut yang dipilih oleh Prabowo.

Dipilihnya Sandiaga Uno mendampingi Prabowo membuat narasi politik yang dibangun menjadi berbeda, isu ekonomi menjadi fokus dari pihak oposisi untuk "berjualan kepada masyarakat.

Melihat kapasitas sang wakil, rasanya isu ekonomi bisa menjadi senjata yang cukup efektif untuk melawan petahana yang telah didukung oleh kekuatan politik elektoral dan identitas yang sangat kuat. Di tengah semakin melemahnya mata uang rupiah terhadap dolar Amerika Serikat, meningkatnya harga barang pokok serta semakin menggunungnya utang negara membuat posisi tawar oposisi dalam hal ini lebih kuat dibandingkan petahana.

Isu ekonomi yang dibawa oleh oposisi membuat mereka mengklam sebagai partai emak-emak, hal ini tidak mengherankan karena isu ekonomi biasanya berkaitan dengan urusan dapur yang sewajarnya dilakukan oleh ibu rumah tangga. Kekuatan emak-emak ini tentunya juga harus diperhatikan oleh pemerintah.

Branding politik menjadi kunci untuk memenangkan pertarungan dalam pilpres tahun depan, pihak mana yang mampu mengolah dan meyakinkan masyarakat dengan narasi politik yang mereka buat akan mampu menguasai jalannya pertandingan.

Masing-masing pasangan calon sudah memiliki basis pemilih yang cukup jelas, pasangan petahana pastinya akan di back up penuh oleh warga nahdiyin dan badan otonom NU lainnya namun yang perlu menjadi catatan adalah warga nahdiyin perlu memastikan bahwa kejadian pada pilpres 2004 tidak terulang ketika itu Ketum PBNU alm.

KH Hasyim Muzadi yang berpasangan dengan Megawati dikalahkan oleh pasangan SBY-JK. Prabowo-Sandi dapat menggunakan isu ekonomi sebagai narasi politik utama yang dapat mereka sampaikan kepada masyrakat tentunyai disertai dengan visi dan solusi yang nyata karena selama ini narasi yang ditawarkan oleh pihak oposisi hanyalah sebatas narasi untuk menyerang petahana.

Apapun pilihannya tentulah kita semua berharap bahwa pemilihan presiden tahun depan dapat berjalan dengan baik sesuai dengan asas-asas demokrasi yang ada di negara kita ini, kita sebagai masyarakat mempunyai tugas dan tanggung jawab moral untuk memastikan bahwa proses pesta demokrasi kita ini benar-benar menjadi pesta untuk kita semua bukan hanya menjadi pesta untuk elit politik dan golongan tertentu saja.

Akhirnya, menjadi harapan penulis dan kita semua tentunya bahwa nantinya dalam proses demokrasi yang akan berlangsung nanti akan lahir pemimpin bangsa yang mau bekerja untuk rakyat dan benar-benar faham akan persoalan bangsa ini serta akan membawa bangsa ini ke arah yang lebih baik.

(YaserBaginda)

Post a Comment

Suara Pembaharu

{picture#https://lh3.googleusercontent.com/-KxCpQnd7tqI/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAAJk/t239p-tSaZY/s120-c/photo.jpg} Media Online, Suara Pembaharu. Menyajikan Informasi Aktual & Terpercaya. {facebook#http://facebook.com} {twitter#http://twitter.com} {google#http://google.com} {youtube#http://youtube.com} {instagram#http://instagram.com}
Powered by Blogger.