Suara Pembaharu ideas 2018

Funco Tanipu.
Suarapembaharu.com - Tampak istilah kesungaian adalah kata yang lucu. Menjadi lucu karena tidak masuk dalam tata bahasa kita. Kesungaian berasal dari kata sungai.Kesungaian adalah sesuatu yang harus dihadirkan. Sebab selama puluhan tahun ini, kita lebih terbiasa dengan kosakata kelautan. Padahal, Indonesia lebih bertumpu pada sungai dibanding laut.
Absennya Universitas
Di seluruh Universitas di Indonesia, yang dipelajari adalah kelautan secara komprehensif. Kelautan menjadi departemen tersendiri, makanya kurikulum tentang kelautan lebih lengkap dibanding kesungaian. Di Departemen atau Fakultas Kelautan ada pelajaran tentang manajemen sumber daya pesisir, ada biologi laut, ada konservasi, ada perkapalan, ada ekonomi kelautan, ada teknologi hasil, ada budidaya. Hal ini kita tidak bisa jumpai secara komprehensif pada sungai, sungai hanya dipelajari secara parsial apalagi kesungaian.
Padahal, hampir semua faktor kehidupan manusia lebih banyak bergantung pada sungai. Bencana banjir yang terjadi di seluruh belahan Indonesia adalah persoalan tata kelola sungai yang bobrok. Begitu pula dengan tata kelola pangan kita yang amburadul, salah satunya karena tata kelola sungai yang salah. Perubahan iklim juga salah satu sebab karena terjadi perubahan di daerah aliran sungai.
Karena itu, kesungaian penting untuk dihadirkan. Dari kesungaian kita bisa mempelajari tentang hukum kesungaian, teologi kesungaian, sosiologi sungai, ekonomi kesungaian, budidaya kesungaian, teknologi hasil kesungaian. Belum jika kita masukkan soal keteknikan (sipil, arsitek, elektro, mesin dan industri). Soal elektro kesungaian, kita bisa mempelajari mengenai bagaimana mengelola sungai sebagai sumber energi listrik untuk masyarakat. Soal bahasa dan budyaa, kita bisa mengeksplor soal bahasa yang digunakan di masyarakat di daerah aliran sungai. Di Kalimantan, bahasa dan budaya sungai sangat berbeda dengan yang di pesisir laut, termasuk farmasi, dimana ilmu pengobatan masyarakat Dayak begitu kaya.
Di Gorontalo sendiri, geografi terbentuk dan mengikuti jalur sungai, kebudayaan pun menyesuaikan dengan itu. Misalnya, sungai Bone yang punya kebudayaan dan bahasa sendiri, yang lainnya adalah sungai Bulango. Begitu pula untuk sungai Paguyaman, dan lainnya. Sumatera dan Kalimantan pun lebih dominan kebudayaan sungai dibanding pesisir. Begitu pun Jawa dan bagian Indonesia lainnya.
Teologi Sungai
Dalam Al Qur’an pun Allah telah menyampaikan soal sungai berkali-kali ; “ Allah-lah yang telah menciptakan langit dan bumi dan menurunkan air hujan dari langit, kemudian Dia mengeluarkan dengan air hujan itu berbagai buah-buahan menjadi rezki untukmu, dan Dia telah menundukkan bahtera bagimu supaya bahtera itu berlayar di lautan dengan kehendak-Nya, dan Dia telah menundukkan (pula) bagimu sungai-sungai”.( QS. Ibrahim(14):32). Pada kelanjutannya, Allah SWT menegaskan soal hati, batu dan sungai ; “Kemudian setelah itu hatimu menjadi keras seperti batu, bahkan lebih keras lagi. Padahal di antara batu-batu itu sungguh ada yang mengalir sungai-sungai daripadanya dan di antaranya sungguh ada yang terbelah lalu keluarlah mata air daripadanya dan di antaranya sungguh ada yang meluncur jatuh, karena takut kepada Allah. Dan Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang kamu kerjakan ”.( QS. Al-Baqarah (2): 74).
Uniknya, dalam Al Qur’an ada janji tentang surga yang didalamnya terdapat sungai ; ”Dan orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal yang saleh, sesungguhnya akan Kami tempatkan mereka pada tempat-tempat yang tinggi di dalam surga, yang mengalir sungai-sungai di bawahnya, mereka kekal di dalamnya. Itulah sebaik-baik pembalasan bagi orang-orang yang beramal, (yaitu) yang bersabar dan bertawakkal kepada Tuhannya”. (QS. Al-Ankabuut(29):58-59). Ayat-ayat tentang sungai menjadi pijakan teologis mengenai kesungaian sebagai sebuah faktor dalam kehidupan, sehingga penting untuk mulai digaungkan dan dikemukakan.
Secara lebih detail pun Nabi Muhammad SAAW menyampaikan mengenai sungai ; “Tahukah kalian, seandainya ada sebuah sungai di dekat pintu salah seorang di antara kalian, lalu ia mandi dari air sungai itu setiap hari lima kali, apakah akan tersisa kotorannya walau sedikit?” Para sahabat menjawab, “Tidak akan tersisa sedikit pun kotorannya.” Beliau berkata, “Maka begitulah perumpamaan shalat lima waktu, dengannya Allah menghapuskan dosa.” (HR. Bukhari no. 528 dan Muslim no. 667). Visi teologis Nabi luar biasa, bagaimana sungai bisa membersihkan badan hingga bisa dijadikan tempat berwudhu untuk menyucikan diri. Sayangnya, kita sebagai umatnya tidak menjadikan sungai sebagai faktor utama dalam kehidupan.
Privatisasi Air
Problem yang lain, hulu sungai kita yang masih bersih di Indonesia saat ini lebih banyak dikuasai korporasi asing dibanding rakyat Indonesia. Sebagai contoh, Aqua Danone (70 % saham dimiliki Perancis) kini menguasai 14 pabrik dan memonopoli puluhan mata air di seluruh Indonesia. Hingga tahun 2008, Aqua Danone telah menyedot lebih dari 30 miliar liter dan menguasai 80% penjualan air minum dalam kemasan (AMDK) di Indonesia. Lebih parahnya, ada 246 perusahaan AMDK beroperasi di Indonesia. Dalam proses produksi AMDK, lebih dari 50% air terbuang percuma. Menurut ASPADIN (Asosiasi Perusahaan Air Minum dalam Kemasan Indonesia) menunjukkan, perusahaan AMDK di seluruh Indonesia setiap tahun membutuhkan sekitar 11,5 miliar liter air bersih, namun yang akhirnya menjadi produk AMDK hanya sebanyak 7,5 miliar liter per tahun. Sisanya, 4 miliar liter air bersih, terbuang percuma untuk proses pencucian dan pemurnian air (sumber : https://membunuhindonesia.net/…/privatisasi-air-di-indones…/).
Pada konteks yang lebih besar, sungai yang mestinya dimiliki dan dikuasai oleh negara untuk kepentingan rakyat kini sedikit demi sedikit telah tergerus menjadi milik korporasi asing, padahal ini adalah mandat dalam UUD 1945 sebagai dasar konstitusi.
Dalam riset Tirto, Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) telah melakukan riset mengenai privatisasi air di Indonesia dalam kurun waktu tahun 1998-2000. Walhi menemukan bahwa kondisi pelayanan air untuk publik yang dikelola oleh swasta tidak mengalami perbaikan yang signifikan. Dari sisi kualitas, pengelolaan air oleh swasta justru cenderung menunjukkan tren negatif. Pada 1998, misalnya, konsentrasi deterjen mencapai 1,12 mg/l. Demikian juga pada 1999 dengan konsentrasi 0,17 mg/l. Padahal standar konsentrasi deterjen seharusnya 0,05 mg/l. Bandingkan, ketika sebelum privatisasi, konsentrasi deterjen masih memenuhi standar seperti pada 1993 (0,031 mg/l) dan 1994 (0,016 mg/l) (https://tirto.id/menggugat-privatisasi-air-di-indonesia-v9n).
Problem pengelolaan air mengalami kendala setelah Mahkamah Konstitusi telah membatalkan UU No 7/2014 tentang Sumber Daya Air (SDA) yang menetapkan air minum tidak boleh mahal dan perusahaannya tidak boleh mengambil keuntungan. Hak rakyat atas air dipahami sebagai hak rakyat mendapatkan akses air bersih guna menjalankan kehidupan sehari-hari, seperti mandi, makan, minum, memasak, mencuci, dan sanitasi. Namun, dalam draft RUU SDA hanya membolehkan pemberian izin penyediaan air minum kepada BUMN, BUMD, dan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes), namun pengelolaan air yang paling banyak di Indonesia lebih banyak tidak berbentuk BUMDes, apalagi BUMN atau BUMD, melainkan berbentuk perkumpulan. Artinya, jika sistem air berbasis masyarakat dilarang punya izin, penyedotannya pun dianggap ilegal dan bisa diperkarakan. (https://tirto.id/konsepsi-039swasta039-pada-ruu-sda-ancam-sistem-air-berbasis-masyarakat-cQfT),
Penutup
Terakhir, Pemerintah Pusat kini meluncurkan program 0-100-0. Program Pemerintah Pusat ini bertujuan untuk 100 yang pertama itu, bagaimana akses air minum terpenuhi untuk masyarakat tercapai 100 persen, 0 yang ke dua adalah bagaimana kawasan kumuh itu hilang hingga target 0 persen, serta 100 yang ke tiga adalah bagaimana sanitasi lingkungan terpenuhi dengan baik. arget pembangunan sampai dengan 2019 adalah pelayanan akses universal air minum dan sanitasi kepada seluruh masyarakat serta terwujudnya kota tanpa kawasan kumuh, pada kawasan kumuh akan dibangun prasarana dan sarana dasar air minum dan sanitasi untuk menambah akses air minum menjadi 100 persen dan akses sanitasi layak 100 persen, sehingga mengurangi kawasan kumuh hingga 0 persen pada 2019. Hingga saat ini, capaian akses air minum baru mencapai 72 %, akses sanitasi layak 60 %, dan menyisakan 12 % kawasan permukiman kumuh. Program ini akan bisa maksimal jika pengelolaan sumber daya air melalui penetapan UU Sumber Daya Air yang kini sedang dibahas bisa menjamin hak rakyat untuk mendapatkan air dengan murah dan berkualitas.
Terkait hal diatas, saya mengemukakan soal kesungaian ini sebagai ikhtiar untuk negeri, bahwa kesungaian sudah menjadi urgen untuk dijadikan dasar kebijakan negara hingga menjadi perhatian dunia pendidikan tinggi dalam pengembangan ilmu pengetahuan. Tulisan ini adalah bagian dari riset yang saya lakukan di Kalimantan, khususnya di daerah hulu sungai di Kalimantan Tengah dan Kalimantan Selatan. Daerah aliran sungai di pedalaman Kalimantan yang dulunya menjadi penyangga kehidupan, kini mulai tergerus dan rusak oleh tangan manusia dan negara. Di masa akan datang, akan lebih parah lagi kondisi negara ini jika salah satu pilar kehidupan mulai tidak dikelola dengan baik.
Penulis : Funco Tanipu.

Post a Comment

Suara Pembaharu

{picture#https://lh3.googleusercontent.com/-KxCpQnd7tqI/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAAJk/t239p-tSaZY/s120-c/photo.jpg} Media Online, Suara Pembaharu. Menyajikan Informasi Aktual & Terpercaya. {facebook#http://facebook.com} {twitter#http://twitter.com} {google#http://google.com} {youtube#http://youtube.com} {instagram#http://instagram.com}
Powered by Blogger.