Suara Pembaharu ideas 2018

Anton Muis, STP, MS.i (PENELITI PADA BALAI RISET DAN STANDARDISASI INDUSTRI MANADO).
Suarapembaharu.com - Harga kopra yang tidak stabil dan relatif sangat rendah berdampak secara lansung kepada kegiatan petani kelapa dan pelaku rantai pasoknya,   sehingga saat ini komoditi kelapa tidak lagi menjadi komoditi primadona dari sektor pertanian sebagai tumpuan dan harapan untuk dapat mengangkat status ekonomi masyarakat khususnya petani kelapa yang ada di Sulawesi Utara. Semboyang sebagai daerah “Nyiur Melambai” sampai saat ini terus melekat bagi provinsi Sulawesi Utara karena pernah menjadi daerah penghasil utama kelapa di Indonesia. Saat ini  berdasarkan data BPS tahun 2017 potensi kelapa di Sulawesi masih menduduki peringkat ketiga setelah Jawa Timur dan Riau. Lambaiyan nyiur di daerah yang kita cintai ini seakan-akan tidak lagi disertai dengan senyuman dan tidak lagi memberikan makna dan kesan yang mendalam kepada masyarakat khusunya petani kelapa, karena harga produk utamanya yaitu “kopra” yang sangat berfluktuasi dan nilai sangat rendah.

Dengan potensi hasil kopra sekitar 1,5 - 2 ton/ha/thn dan harga yang sangat rendah, menjadikan komoditi ini kurang dapat mendukung kesejahteraan petani dan pelaku-pelaku rantai pasoknya. Kondisi harga yang sangat rendah tersebut dapat memberi dampak buruk bagi keberlanjutan usaha Agrobisnis dan Angroindustri tanaman kelapa, gejalanya sudah terlihat, misalnya: dengan maraknya penebangan pohon kelapa menjadi bahan bangunan dan meubel,  kurangnya usaha peremajaan kelapa yang tidak produktif  oleh petani bahkan ada usaha untuk menkonversi lahan perkebunan kelapa menjadi lahan perkebunan tanaman pertanian lainnya.

Untuk memulihkan kondisi tersebut diperlukan pemikiran, kebijakan dan tindakan untuk memberikan solusi yang nyata, hal tersebut menjadi tugas dan tanggung jawab kita bersama dengan melibatkan semua stakeholder di bidang kelapa (pemerintah, teknokrat, pelaku usaha dan petani) dengan cara mensinergikan berbagai program dan aktivitas untuk pengembangan komoditi kelapa secara terpadu dan berkelanjutan, baik untuk jangka pendek, menengah dan jangka panjang.

Dari aspek teknis dan teknologi salah satu solusi untuk mengurangi dampak sosial dengan melorotnya harga kopra adalah memaksimalkan diversifikasi produk turunan kelapa, dengan demikian tidak lagi terfokus dan tergantung pada komoditi kopra sebagai produk utama atau produk akhir dari kelapa yang dihasilkan oleh petani. Kopra masih tergolong dalam kategori sebagai bahan baku atau bahan mentah dari suatu kegiatan indsutri yang secara otomatis pasti memiliki resiko dalam fluktuasi nilai dan harga pasar tergantung kondisi ekonomi (makro dan mikro) saat itu, regulasi perdagangan dan kondisi industri demand.

Dengan mengolah buah kelapa, termasuk kopra menjadi produk setengah jadi atau produk jadi maka akan dapat meminimalisir resiko tersebut. Pangsa pasar kopra saat ini masih terbatas pada industri pengolahan minyak kelapa skala besar, dimana kopra diolah menjadi minyak kelapa kasar atau  CCO (Crude Coconut oil) dan RBD CNO (Refining, Bleaching and Deodorizing coconut oil) yang saat ini merupakan komoditi eksport.
Adalah suatu ironi bahwa daerah Sulawesi Utara adalah penghasil kelapa dan kopra tapi hanya kurang dari 0,1% masyarakatnya menggunakan atau mengkonsumsi minyak yang berasal dari kelapa untuk kebutuhan di rumah tangga. Sehingga perlu diketahui secara bersama bahwa minyak goreng yang ada di pasaran (tradisional dan swalayan) dalam kemasan atau curah semuanya berasal dari kelapa sawit bukan dari kelapa (“kelapa dalam”), hanya ada satu merk minyak goreng (“x”)  dari kelapa yang ada dipasaran tapi itu pun hanya dijual di swalayan tertentu.

Untuk memproduksi kopra menjadi minyak goreng dari aspek teknologi sangat memungkinkan dilakukan oleh industri skala kecil – menengah tidak harus oleh industri besar seperti yang ada di kota Bitung dan Minsel, sehingga kami sangat sependapat pernyataan Anggota DPRD SULUT Bapak Teddy Kumaat yang dimuat pada harian Manado Post tanggal 8 November 2018, salah satu upaya jangka menengah untuk mengantisipasi keterpurukan petani akibat melorotnya harga kopra adalah dengan cara kita harus menghidupkan Industri pengolahan kelapa berbasis Home Industri, sehingga apabila harga kopra tidak stabil maka  kelapa  atau kopra dapat diolah menjadi produk turunan lainnya dan tidak menimbulkan kepanikan dari para petani kelapa.

Dalam aspek teknologi harus diakui bahwa petani memiliki keterbatasan, sehingga diperlukan keterlibatan dan kerjasama serta kolaborasi semua pihak.

Dari aspek teknologi memang harus melibatkan para akademisi dan lembaga penelitian melalui para penelitinya untuk melakukan bimbingan teknologi  khusunya diversifikasi produk kelapa dan turunannnya. Baristand Industri Manado sebagai salah satu lembaga riset di bawah Badan Penelitian dan Pengembangan Industri (BPPI) Kementerian Perindutrian, yang sesuai dengan tupoksinya melakukan riset yang difokuskan pada pengembangan produk kelapa dan turunannya. Baristand Industri Manado telah menghasilkan banyak hasil riset dibidang kelapa yang sangat memungkinkan untuk dapat diterapkan di industry, salah satunya adalah pengembangan pengolahan kelapa menjadi minyak goreng  dan minyak kelapa yang manfaatnya untuk kesehatan.

Dari aspek ilmiah lewat hasil penelitian yang kami lakukan maupun yang dilakukan oleh lembaga riset lainnya bahwa minyak goreng yang berasal dari kelapa “lebih sehat” dan memiliki kualitas yang lebih baik dibanding dengan minyak goreng dari sumber lain. Minyak kelapa mengandung asam lemak jenuh ±90% dan asam lemak tak jenuh ±10%. Asam lemak jenuh tersebut didominasi oleh asam lemak golongan rantai sedang (MCFA)  yaitu asam lemak dengan rantai  karbon C1 – C12, golongan asam lemak ini memiliki keunggulan dibanding dengan asam lemak lain diantaranya tidak dapat disintesis menjadi kolesterol, tidak ditimbun dalam tubuh, mudah dicerna dan dibakar dalam proses metabolisme serta lebih mudah dilarutkan.

Kualitas minyak kelapa tidak diragukan lagi, kita dapat membuktikan sendiri bahwa ketika kita menggunakan minyak kelapa untuk proses penggorengan,  dengan bahan, volume dan metode penggorengan yang sama maka setelah proses penggorengan terlihat kualitas minyak kelapa masih jauh lebih baik jika dibandingkan dengan  menggunakan minyak goreng dari sumber lain, parameter yang paling cepat terlihat adalah warna minyak, minyak dari sumber lain warnanya lebih hitam karena terjadinya pemutusan ikatan rantai karbon lebih mudah akibat pemanasan, sedangkan minyak dari kelapa terlihat masih lebih jernih  hal ini disebabkan karena kandungan asam lemak jenuhnya lebih tinggi (90%), semakin tinggi kandungan asam lemak jenuh suatu minyak maka akan lebih tahan terhadap proses pemanasan atau rantai karbonya tidak mudah mengalami pemutusan akibat pemanasan, dibanding dengan minyak dengan kandungan asam lemak tak jenuh yang tinggi.

Selain itu aroma bahan yang digoreng dengan menggunakan minyak kelapa lebih gurih dan memiliki aroma yang khas minyak kelapa. Sehingga dari aspek teknologi dan berbagai keunggulan serta manfaat dari minyak kelapa dapat menjadi daya dukung untuk membuka peluang dan prospek pasar pengembangan pengolahan minyak goreng dari kelapa.

Teknologi pengolahan minyak goreng dari kelapa secara umum dapat dilakukan dengan beberapa metode, semua metode tersebut sangat memungkinkan untuk bisa diterapkan di industri untuk skala kecil dan menengah, diantaranya adalah:

1. Metode Pengolahan dengan menggunakan kopra, dimana kopra dilakukan pengepresan untuk mendapatkan minyak  kasar (crude coconut oil), selanjutnya dilakukan proses pemurnian dan penyaringan minyak
2. Metode pengeringan, yaitu daging kelapa diparut, kemudian dikeringkan selanjutnya dilakukan pengepresan dan penyaringan minyak.
3. Metode basah, yaitu daging kelapa diparut kemudian dilakukan pengepresan. Selanjutnya santan kelapa yang didapatkan  dilakukan pemasakan dan penyaringan minyak.
4. Metode fermentasi, daging kelapa di parut, dipress untuk mendapatkan santan. Selanjutnya lakukan proses fermentasi secra alami, pemasakan dan penyaringan minyak.

Selain pegolahan kelapa menjadi kopra dan minyak kelapa, berbagai produk turunan kelapa lainnya dapat dikembangkan dimana teknologinya sudah dihasilkan oleh Baristand Industri Manado dan siap untuk dikembangkan dan diaplikasikan ke industri yaitu: Pengembangan produk turunan kelapa menjadi Virgin coconut OIL (VCO) dan produk turunan VCO lainnya, sabun dari minyak kelapa, Non diary creamer dari minyak kelapa, minuman isotonik air kelapa, arang aktif dan briket tempurung kelapa. Produk dan teknologi di atas penerapannya bisa dilakukan dengan pendekatan sistem plasma (community made approach), selain itu juga dapat dilakukan dengan pendekatan sistem terintegrasi (integrated made approach), keunggulan sistem  terintegrasi adalah bisa menekan biaya operasional/produksi dengan menghasilkan lebih dari satu jenis  produk industri.

Semoga tulisan ini dapat mendorong untuk melakukan diversifikasi produk turunan dari kelapa dan mendorong penggunaan minyak goreng untuk kebutuhan sehari-hari secara masif serta dapat mendorong upaya kolaborasi yang semakin intens antara berbagai pihak yaitu lembaga litbang seperti Baristand Industri Manado dengan pihak pihak lain seperti akademisi, asosiasi kelapa, petani kelapa dan lembaga pemerintah yang terkait untuk mensinergikan berbagai program dan aktivitas dalam pengembangan kelapa dan produk turunannya.

Post a Comment

Suara Pembaharu

{picture#https://lh3.googleusercontent.com/-KxCpQnd7tqI/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAAJk/t239p-tSaZY/s120-c/photo.jpg} Media Online, Suara Pembaharu. Menyajikan Informasi Aktual & Terpercaya. {facebook#http://facebook.com} {twitter#http://twitter.com} {google#http://google.com} {youtube#http://youtube.com} {instagram#http://instagram.com}
Powered by Blogger.